Sebatang Coklat Leleh

Pagi itu di Kota Jogja cukup dingin karna semalaman hujan turun, ku rapatkan jaketku lalu segera berangkat ke kampus. Jalan masih lenggang mengingat masih pukul 6 pagi, terkadang traffic light saja masih tertidur. Perjalanan menuju kampus terasa sangat nyaman dan tenang. Sebenarnya jarak antar kampus dengan rumahku tidak begitu jauh, alasanku berangkat sepagi ini karna aku menyukai suasana dipagi hari yang seakan memberikan perasaan meditasi pada diriku sendiri.

“Tinn….”

Suara klakson dibelakangku membuyarkan lamunanku, kulihat di spionku pantulan seseorang yang tersenyum dengan sedikit menaikkan alisnya. Aku tersenyum membalasnya. Dia adalah seseorang yang menjadi alasan selanjutnya yang membuatku bersemangat berangkat pagi.

“Annyeong Bintang,” sapanya saat kami berhenti di traffic light.

Aku tersenyum. “Apaan sih Bi,”

Dia tertawa memamerkan deretan giginya yang rapi.

“Ada PR gak sih?” tanyanya kemudian.

“Ada,” jawabku. Ah iya kami satu kelas di Manajemen A.

“Waduh nanti aku liat tempatmu ya Bi,”

Lucu ya kita memiliki panggilan yang sama. Walaupun nyatanya aku selalu dipanggil Bin dikelas namun Abi selalu memanggilku Bi katanya biar kami jodoh dan diam-diam aku selalu mengamininya.

Aku mengangguk.

Lampu berubah menjadi hijau, ku lajukan motorku didepan Abi. Biasanya jika kami bebarengan dia akan tetap dibelakangku katanya untuk melindungiku. Ah…Abi dia sangat bisa membuatku tak berhenti tersenyum. Suara motor besarnya seakan menjadi tanda dia berada dibelakangku namun jika aku tak mendengarnya aku akan memperlambat motorku karna pasti dia terjebak traffic light dan setelah aku mendengarnya kembali aku melajukan motorku kekecepatan normal.

Kelas masih sepi. Pantas saja ini masih pukul setengah 7 namun suasana seperti ini justeru membuatku bisa berduaan dengan Abi. Senangnya. Aku mengedarkan pandanganku ke ruangan kelas tapi tak terlihat keberadaan Abi, tadi setelah aku memarkirkan motorku dia menghilang begitu saja, kupikir sudah ke kelas. Mungkin ada suatu urusan, batinku.

“Annyeonng Bi,” ucap seseorang yang sudah kukenali.

Aku mengangkat wajahku lalu menghentikan aktifitasku membaca novel. “Darimana? Aku pikir tadi ke kelas duluan,” tanyaku.

“Hehe….tadi ada urusan,” jawabnya disertai tawan ringan. “Bi, mau pinjem catetan,” lanjutnya.

“Nih,” ucapku seraya memberikan catatanku yang sudah kupersiapkan diatas meja.

Abi mengambilnya lalu berjalan ke bangku tempatnya dan mulai asik menyalin jawabanku. Sesekali dia bergumam ataupun menopang kepalanya memecahkan soal dan relevansi jawabanku.

Aku memandang keluar jendela terlihatlah jalan raya yang sudah mulai ramai. Satu persatu teman temanku datang. Aku kembali ke tempat dudukku di deretan kedua dari depan. Kulihat Abi yang masih menyalin di deretan bangku belakang.

Suasana kelas sudah ramai, dosen memasuki kelas lalu kutengok Abi yang langsung menyudahi kesibukkannya segera mengembalikan catatanku.

Kelas berjalan lancar walau tadi Dito menyebabkan kendala karna jail memasukkan laba-laba karet kedalam tas Rika yang tentunya Rika langsung menjerit menyebabkan teman-teman di sampingnya segera ambil tindakan menjauh darinya. Rika dikenal sebagai orang yang selalu heboh dikelas. Selanjutnya Dito dikeluarkan dari kelas sehingga pelajaran kembali terkendali.

“Saya rasa sudah cukup. Ada pertanyaan?”

“Tidak Bu,” semuanya membeo.

“Baiklah. Terimakasih perhatiannya.”

Dosen keluar diikuti semua mahasiswa seketika kelas langsung kosong lalu aku segera membereskan barang-barangku dan bergegas pulang, sampai Abi memanggilku lalu menyodorkan bungkusan ungu bertuliskan cadburry.

Aku menatapnya bingung, “Apa?” tanyaku.

“Buat kamu tapi maaf sudah leleh,” Abi mengusap tengkuk lehernya. “Anggap saja ucapan terimakasih tadi minjemin catatan.”

Aku menerima coklat itu dan benar saja coklatnya sudah tak berbentuk layaknya coklat seperti biasanya. “Makasih,” jawabku.

Abi mengangguk lalu berpamitan keluar, tak beberapa saat kemudian aku menyusulnya.

“Mau pulang Bin?” tanya Keisha teman sekelasku yang berada di ambang pintu.

“Iya,” jawabku.

“Hati-hati ya,” pesannya.

Aku mengangguk, belum sempat aku berbelok Manda menyenggol bahuku.

“Eh maaf maaf,” ucap Manda anak Akuntansi C teman Keisha.

Aku mengangguk.

“Hei Sha,” sapanya. “Sha tau gak tadi pagi Abi nembak Lia,”

Langkahku terhenti, mulutku sedikit terbuka, aku mencerna kalimat itu dengan seksama. Apakah pendengaranku terganggu. Aku menggelengkan kepalaku mencoba meraih kesadaran lalu kudengar lagi pernyataan Keisha.

“Iya, tapi ditolak,” kata Manda.

“Sumpah?” tanya Keisha tak percaya.

Manda terdengar bergumam tanda mengiyakan pertanyaan Keisha. “Padahal coklatnya enak lo cadburry kan enak,”

Cadburry?

Aku menghembuskan napas berat ternyata coklat pemberian Abi merupakan coklat malang yang sudah dicampakkan pemilik aslinya. Aku melangkahkan kakiku kembali dengan berjuta makian dan sesal di dalam otakku.

Sebatang coklat leleh yang tak  berbentuk. Kupikir itu hadiah istimewa tapi ternyata harapanku terlalu tinggi. Pantas saja, sepertinya dia paham perasaanku yang mungkin hanya utuh dalam waktu sementara saja dan akan berubah pada waktunya. Perasaanku mulai meleleh tak berbentuk seperti coklat itu yang lama kelamaan tak berguna lalu dibuang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s