(Loading…) Stuck In The Moment

Kupikir semua sudah selesai saat kutarik diriku sendiri dari percakapan tengah malam itu. Yang singgah dipikiranku hanya kata-kata dari sahabatku yang memeberiku saran untuk menyudahi segala bentuk perhatian maupun usahaku. Akan tetapi kenyataannya itu belum berakhir, bagiku apa salahnya mencoba walaupun tak kan ada yang berubah tapi memang itu yang kuharapkan, meski aku tau jawabannya tetap sama tapi tak masalah semua akan kutanggung sendiri. Jemariku dengan tidak sopan masih saja mengetikkan beberapa kata yang membentuk kalimat seperti kalimat rumpang yang mewajibkan untuk dibalas. Semestinya bukan begini. Semestinya aku tau diri. Semestinya aku tak bernyali.

Tengah malam terlewati begitu cepat, dengan ditemani drama yang sedang kutonton aku mencoba sesekali melirik ponselku yang beberapa kali menyala memperlihatkan pesan masuk namun tetap tak ada jawabannya. Sudah hampir pergantian hari dan hari ini dia tak membalas. Bukan karna dia tak ada waktu, dia ada waktu buktinya pesanku sudah dibaca namun tak terbalas.Ya, kalian bisa memanggilku psyco karna kenyataannya aku selalu membuka pesannya sekedar ingin tau. Hanya itu. Percayalah. Sebenarnya jauh daridulu aku ingin berhenti. Seperti itulah, seperti yang kalian sarankan. Tapi yang kulakukan masih saja sama; Menunggunya.

Akhirnya aku menyerah dan kutarik selimutku lalu kupejamkan mataku mulai berharap esok hari kan ku temukan namanya dengan angka 2 atau 3 di sebelah kanan.

Namun pada kenyataannya kalian pasti mengetahui jawabannya. Itu benar. Tidak ada jawaban.

Aku menghela napas dan berpikir siapa aku yang mendiktenya harus membalas pesanku setiap saat? Siapa aku yang harus membuatnya sadar bahwa balasannya sedang kutunggu? Siapa aku yang harus berharap dia akan bertanya mengenai kehidupanku? Siapa aku yang harus berharap dia akan menemaniku disaat aku kesepian? Jawabannya sederhana; Aku bukan siapa-siapa dan aku tidak berhak atas dirinya. Ini hanya keegoisannku yang masih menggenggam bayangnya.

Seringkali aku duduk sendiri dan memikirkan betapa beratnya menjadi diriku sendiri. Kadang aku mengeluh kadangpula aku menerima. Memang aneh namun itu faktanya.

Mengingat itu semua aku mulai tersadar hampir dua tahun aku menyimpan rasa kepadanya. Dua tahun yang kurasa akan sia-sia.

Ponselku akhirnya mengabulkan doaku. Terlihat sebuah nama yang sedari tadi kusebut. Ya dia meminta maaf karna pesanku tak segera dibalasnya karna tertimbun. Tertimbun namun sudah dibaca itu aneh. Aku membalas dengan santai dan berprilaku semua baik-baik saja. Yah apalagi yang bisa ku lakukan? Mencoba memarahinya? Bangunlah ku bukan siapa-siapanya.

Dan akhirnya pesan yang kuanggap akan berakhir masih berlanjut dan menyisakan senyuman setiap kulihat namanya muncul dilayar ponselku. Lihat? Tak sulit membuatku bahagia.

Aku akan berhenti. Itu pasti. Pilihannya hanya berhenti karna sudah ada balasan atau berhenti karena tak ada lagi alasan. Entah mengapa seseorang selalu terbodohi dengan situasi seperti ini. Berupaya melepaskannya namun diam-diam masih mengharapkannya.

-Akan ada masanya ketika penantian berujung suka

Atau penantian berujung luka
Dan perjuangan akan berujung pengertian

Atau perjuangan akan berujung penyesalan-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s