Chapter Two – Her

“Krystal! Kamu kemana saja sih?” ucapnya seraya berdiri saat aku memasuki restoran ramen yang sudah menjadi tempat favorite kami.

“Kubilang macet dijalan, kamu gak bisa baca?” ujarku menaruh jaket serta tasku di samping kursiku. “Duduklah” lanjutku.

Dia menuruti perintahku dengan umpatan kesal.
Ahh iya dia Deva teman SMP ku, kami sudah berteman selama 10 tahun akan tetapi kami menjadi teman dekat selama 3 bulan terakhir ini. SMA dan kuliah kami berbeda. Kami bertemu kembali disebuah reuni akbar yang di selenggarakan oleh SMP kami saat ulangtahun.

“Kamu mau pesan apa? Ramenku sudah dingin karna menunggumu daritadi”

“Ramen Katsu Soyu” ucapku tak menghiraukan pengaduannya.

“Tidakkah kau meminta maaf?” ucapnya.

“Untuk apa?”

“Sudahlah tak apa.” dia mengulas senyumnya. “Ah apakah kau tak minum?”

“Lemon Tea” jawabku.

Dia mengangguk bergegas menuliskan pesananku lalu ke kasir.
Aku melihatnya dari kejauhan, dia tak pernah menyerah ataupun lelah pasalnya aku selalu menunjukkan sikap angkuh kepadanya, aku tak pernah kasian dengannya, tak pernah membalas apapun yang dia berikan. Kenapa? Apakah dia menyukaiku? Ah ini semakin rumit, tak mungkinlah.

“Kamu darimana?”

Lamunanku terpecah saat menyadari dia sudah duduk didepanku. “Haa, oh, penting aku darimana? Kenapa kamu selalu menanyai pertanyaan seperti itu jika kita bertemu” jawabku seraya melihat ponselku.

“Aku mengkhawatirkanmu. Harus berapa kali aku mengatakannya.” kesalnya.

“Oh” ucapku masih memandang layar ponselku yang sebenarnya tak ada apa apa.

“Apa kau tak mengerti juga bahwa aku..”

“Pesanan datang, dua lemon tea, takoyaki, dan ramen. Silahkan makan.” perkataannya terpotong dan aku bersyukur akan hal itu.

“Kamu memesan lagi untukmu? Bukankah itu boros?” kataku.

“Bukan untukku tapi untuk kita, hahaha bukankah porsimu cukup banyak?”

“Ah benar kau tau saja” ucapku lalu menikmati ramen yang terlihat sangat lezat.

“I know everything about you.” jawabnya

Aku terdiam. Aku memikirkan apakah aku terlalu jahat dengannya? Selama ini dia baik kepadaku, aku masih ingat perkataan teman temanku yang sangat mendukung ku dengannya, bahkan saat ulangtahunku kemarin dia rela menunggu berjam-jam hanya untuk menungguku diluar dan saat aku pulang aku hanya merespon biasa saja, sekedar berterimakasih lalu gilanya saat itu juga dia mengungkapkan dia menyukaiku. Namun jawabaku cukup menyakitkan, aku bilang kita berteman saja karna aku masih menyukai seseorang. Dia terlihat sangat kecewa lalu langsung berpamitan pulang walaupun hujan masih deras dan sejak saat itu aku menyalahkan diriku sendiri karena aku tak memberinya kesempatan tapi moveon dari masalalu itu sangat sulit. Bagiku lebih baik jangan menerima hati orang jika hati sendiri masih disinggahi orang lain. Dan kenyataannya aku masih belum bisa melupakan seseorang yang dulu pernah ada walaupun sekarang sudah tiada. Tapi itu tak berlaku untukku, bagiku dia masih tetap ada walaupun hanya didalam memori.
Ahh kenapa aku jadi memikirkannya kembali?

“Hei berhenti menatapku saat aku sedang makan. Itu membuatku risih.” ucapku masih menikmati makan malamku.

“Dih PD” sangkalnya.

Aku tak menghiraukannya dan memutar bola mataku.

“Uugghhh kenyangnya.” ucapku.

“Mau nambah?”

“Gila apa! Enggak!”

“Lihatlah tanganmu terlalu kecil.” ucapnya memegang pergelangan tanganku, “makanlah yang banyak atau nanti kamu akan berubah jadi tengkorak berjalan” cengirnya

“Kurang ajar!” kesalku.

“…nice to meet u where u’ve been i

“Berhentilah bernyanyi. Kau menyebabkanku tak fokus makan karna mendengarkan suara merdumu.”

“Dih makan makan aja kalik”

“Hehehehe” tawanya ringan. “Emm…Kris” lanjutnya.

“Hem?” dehemku sambil meminum minumanku.

“Aku mau ngomongin sesuatu” ucapnya.

Hatiku takkaruan akankah dia akan…..lupakan. Kemana jalannya pikiranku ini?

“Ngomong aja” aku tetap meminum minumanku dan tak mengangkat kepalaku.

Entah mengapa rasanya seperti, bagaimana aku menjelaskannya? Rasanya seperti aku sudah tau dia akan mengatakan apa namun kenapa aku kesal? Dan kenapa ada rasa senang? Oh tidak aku memikirkan hal yang konyol lagi.

“Would you be my girlfriend?”

“Uhuk” batukku. Seketika mataku melotot kearahnya.

Jackpot. Batinku

Dia benar-benar mengatakan apa yang aku pikirkan, apakah dia bisa membaca pikiranku?

“Apa? Apa yang kamu katakan?” balasku masih menatapnya tajam.

“Aku….aku menyukaimu Kris dan i want you not to be my friend but be my gilrfriend. Aku tau, sangat tau aku sembrono menyatakan perasaanku yang aku sudah tau jawabannya. Kamu masih tak bisa beranjak dari masalalu. Tapi aku yakin aku bisa membantumu, aku akan selalu di sampingmu, aku akan menunggumu entah itu satu tahun atau….”

“Cukup!” bentakku, “jangan mengatakan janji yang sulit Dev. Jangan mengatakan janji murahan seperti itu.”

“Aku tak main-main Kris, aku menyayangimu. Sungguh.”

“Kau tau jawabanya kan Dev?” ucapku. “Aku mau pulang. Makasih. Aku yang bayar.” lanjutku mengemasi barang-barangku lalu beranjak pergi.

Dia terdiam tak bergeming.

Aku menggigit bibir bawahku seraya menutup mataku.

Ayolah, batinku

Aku membuka mataku lalu melirik kearahnya tanpa menoleh.

Siasia.

Padahal aku menunggunya mencegahku, padahal aku menunggu reaksinya.

Tapi dia hanya melihat bumi dan bahkan tak menatapku.

Ya kalian benar. Aku juga menyukainya.

Tapi…..aku mempunyai kendala. Dan maaf aku tak bisa mengatakannya kepada kalian. Aku sudah siap untuk menyesal beribu ribu kali.

Aku tak bisa menerimanya walaupun aku menginginkannya. Tapi kau tau? Ini pilihan yang sulit.

Tujuh bulan kemudian

Sinar matahari dengan tak sopannya menerobos kamarku, menyilaukan mataku dan mengganggu pagiku. Aku masih bermalasan di atas tempat tidurku yang seakan menghipnotisku untuk tak meninggalkannya. Akan tetapi pada akhirnya aku harus menyerah, aku bangun lalu merenggangkan badanku.

Ku seret kedua kakiku ke kamar mandi. Ku gosok gigiku dengan malas, mataku saja masih setengah terbuka. Kalau bukan tugas itu aku tak sudi untuk bergadang hingga pagi seperti ini, lihatlah mata pandaku. Oh tidak aku seperti panda sungguhan.

“LINE!!” teriak nyaring ponselku

Aku menuju kamarku lalu ku buka pesan itu dan sesuatu terjadi.

Aku bersumpah jika aku mengetahui siapa pengirim itu sebelumnya aku tak akan membacanya.

“Lama tak jumpa Kristal, masih ingat padaku? Mustahil kau mengingatnya Kris, haha.”

Kenapa dia kembali lagi disaat aku sudah mulai terbiasa tanpanya.

“LINE”

“Mmm….Kris aku ingin bertemu denganmu, bisakah minggu depan kita bertemu?”

Aku menatap ponselku dan sederet kalimat yang daridulu sudah ku takutkan.

Akankah aku menerima kesempatan ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s