Chapter One – Him

“Krystal! Kamu kemana saja sih?” ucapku berdiri saat melihatnya memasuki restoran.

“Kubilang macet dijalan, kamu gak bisa baca?” ujarnya menggerutu. “Duduklah” pintanya.

Aku menuruti perintahnya, “Di khawatirin malah nyolot.” umpatku.
Kenalkan dia Kristal teman SMP ku, yaaaa aku menyukainya sejak SMP, kau tau aku bersusah payah untuk mendekatinya karna yaahh sifatnya seperti itu. SMA dan kuliah kami berbeda. Kami bertemu kembali disebuah reuni akbar yang di selenggarakan oleh SMP kami saat ulangtahun.

“Kamu mau pesan apa? Ramenku sudah dingin karna menunggumu daritadi” kodeku

“Ramen Katsu Soyu” ucapnya tak sekalipun menatapku hanya untuk melihat wajah kesalku.

“Tidakkah kau meminta maaf?” ucapku meyakinkan.

“Untuk apa?” sanggahnya.

Jleb

Kutelan kembali pengaduan rasa emosiku.

“Sudahlah tak apa.” ucapku tersenyum. “Ah apakah kau tak minum?”

“Lemon Tea” jawabnya yang lagi-lagi enggan menatapku melainkan masih saja asik melihat ponselnya.

Segera kutuliskan semua pesanannya lalu ku beranjak ke kasir.

Aku tak mengerti, aku sudah lelah sebenarnya. Sungguh. Bagaimana tidak? Kami berteman hampir 10 tahun, kau tau rasanya menahan perasaan yang tak pernah tersampaikan? Ya memang itu salahku karna tak pernah kusampaikan. Bukannya aku penakut tapi aku sudah tau apa yang akan dijawabnya, penolakan itu menyakitkan walaupun terkadang banyak wanita yang bilang menjadi pria itu sangat beruntung karna bisa ibaratnya memilih lalu menembak. Tapi tak taukah itu sebenarnya sangat bertolak belakang? Pasalnya tak semua orang siyap menerima kegagalan serta selalu mengalah hanya untuk mendapat nilai plus.

“Silahkan ditunggu.”

“Oke terimakasih” jawabku.

Ku kembali ke tempatku. Ku lihat dia sedang memandang suasana diluar dari jendela yang berdekatan dengan meja kami. Aku duduk didepannya dan dia masih melamun. Rasanya ingin kucubit pipinya.

“Kamu darimana?” ucapku meleburkan lamunannya.

“Haa, oh, penting aku darimana? Kenapa kamu selalu menanyai pertanyaan seperti itu jika kita bertemu” jawabnya seraya melihat ponselnya.

“Aku mengkhawatirkanmu. Harus berapa kali aku mengatakannya.” kesalku karna dia tak pernah sekalipun mendengarku.

“Oh” ucapnya acuh.

“Apa kau tak mengerti juga bahwa aku..”

“Pesanan datang, dua lemon tea, takoyaki, dan ramen. Silahkan makan.” perkataanku terpotong dan aku mengutuk waiters itu karna datang disaat yang tidak tepat.

“Kamu memesan lagi untukmu? Bukankah itu boros?” katanya.

“Bukan untukku tapi untuk kita, hahaha bukankah porsimu cukup banyak?” jawabku

“Ah benar kau tau saja” ucapnya menyudahi pembicaraan.

“I know everything about you.” jawabku meyakinkannya

Dia terdiam cukup lama.

“Hei berhenti menatapku saat aku sedang makan. Itu membuatku risih.” ucapnya menghentikan kegiatanku.

“Dih PD” sangkalku.

Dia memutar bola matanya kemudian makan kembali. Dan itu terlihat sangat lucu bagiku.

“Uugghhh kenyangnya.” ucapnya.

“Mau nambah?”

“Gila apa! Enggak!” gerutunya.

“Lihatlah tanganmu terlalu kecil.” ucapku memegang pergelangan tangannya, “makanlah yang banyak atau nanti kamu akan berubah jadi tengkorak berjalan” ejekku.

“Kurang ajar!” kesalnya.

Kami kembali terdiam.

“…nice to meet u where u’ve been i…”

“Berhentilah bernyanyi. Kau menyebabkanku tak fokus makan karna mendengarkan suara merdumu.” godaku tapi memang benar dia memiliki suara yang bagus.

“Dih makan makan aja kalik” sinisnya.

“Hehehehe” tawaku, “Emm…Kris” lanjutku.

“Hem?” dehemnya tetap menikmati minumannya.

“Aku mau ngomongin sesuatu” ucapku.

Ya, aku akan mengatakan yang sejujurnya karna setelah kupikir pikir aku bersamanya sudah cukup lama dan aku juga ingin tau perasaannya kepadaku.

“Ngomong aja” dia tetap meminum minumannya dan tak mengangkat kepala.

Entah mengapa rasanya seperti, bagaimana aku menjelaskannya? Rasanya seperti mau meledak dan kenapa kata kata itu sangat berat keluar dari mulutku. Okeoke tenang dan katakan.

“Huuuh” hembusku pelan.

“Would you be my girlfriend?” akhirnya kata itu terucap.

“Uhuk” batuknya.

Jackpot. Batinku

Dia benar-benar terkejut dan memlototkan matanya kearahku.

“Apa? Apa yang kamu katakan?” ucapnya masih menatapku tajam.

“Aku….aku menyukaimu Kris dan i want you not to be my friend but be my gilrfriend. Aku tau, sangat tau aku sembrono menyatakan perasaanku yang aku sudah tau jawabannya. Kamu masih tak bisa beranjak dari masalalu. Tapi aku yakin aku bisa membantumu, aku akan selalu di sampingmu, aku akan menunggumu entah itu satu tahun atau….”

“Cukup!” bentaknya tanpa memperdulikan perkataanku yg terpotong, “jangan mengatakan janji yang sulit Dev. Jangan mengatakan janji murahan seperti itu.” lanjutnya.

“Aku tak main-main Kris, aku menyayangimu. Sungguh.”

“Kau tau jawabanya kan Dev?” ucapnya. “Aku mau pulang. Makasih. Aku yang bayar.” lanjutnya mengemasi barang-barang lalu beranjak pergi.

Aku terdiam tak bergeming. Ku lihat sosoknya yang semakin lama semakin menjauh, aku tak bisa memaksakan perasaannya. Aku tak akan mengejarnya karna kutau itu tak akan merubah apapun. Ku lihat kebawah. Ku lihat kotak musik yang sudah kehilangan pemiliknya.

Siasia.

Padahal aku berharap dia melihat ke arahku walau itu tidak ada artinya, padahal aku menunggu reaksinya.

Tapi dia hanya melihat langit dan bahkan tak menatapku.

Aku harus segera memupus perasaan ini.

Tujuh bulan kemudian

Sinar matahari dengan tak sopannya menerobos kamarku, menyilaukan mataku dan mengganggu pagiku. Aku sudah terbangun daritadi. Namun masih berdiam diri duduk dipinggiran tempat tidurku. Aku memimpikan Kris tadi malam dan aku langsung tersadar kalau aku masih menyayanginya.

Sedang apa dia pagi ini.
Sebelumnya dulu selalu kukatakan kalimat selamat pagi dan dia hanya membalas, aku sudah tau ini pagi.
Ku buka ponselku kutuliskan kalimat

Lama tak jumpa Kristal, masih ingat padaku? Mustahil kau mengingatnya Kris, haha.

Aku mengetuk ketukan jariku di pahaku sampai akhirnya ku bulatkan tekadku tanpa berpikir lagi ku kirim pesan tersebut. Aku beranjak lalu duduk di kursi balcon.
Terlihat pesanku sudah diread akan tetapi tak kunjung ada balasan, akhirnya langsung ku sampaikan benang merahnya.

Mmm….Kris aku ingin bertemu denganmu, bisakah minggu depan kita bertemu?

Begitulah pesan yang ku kirim kepadanya lagi.

Aku menatap ponselku dan sederet kalimat yang daridulu ingin kusampaikan.

Akankah aku menerima kesempatan lagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s