Seratus tiga puluh tujuh hari

Untukmu batu karang yang telah berhasil merusak pertahananku hari ini.

Aku sengaja memasuki sebuah pertokoan kota yang sudah tak asing lagi bagiku, terlihat orang-orang sedang bermondar mandir seraya membawa secarik kertas, disudut sudut toko tampak perempuan berseragam membagikan brosur untuk menarik perhatian pengunjung agar mau mampir ke stand mereka, banyak anak kecil berlari kesana kemari, tampak orangtua mereka mulai agak jengkel karena si anak tak kunjung mau berhenti. Ya, terlihat sangat ramai akan tetapi itu tidak berlaku untukku. Sebenarnya aku tak tau mengapa aku kemari akan tetapi aku merasakan ada sesuatu yang tertinggal di tempat ini dan semuanya seperti terekam kembali saat aku memasuki tempat bagian “parfum” ya parfum. Kuulas senyum tipis, kuambil parfum yang berada di depanku.

“Wanginya enak” batinku.
Kulihat sekelilingku, setelah aman tak ada orang yang melihatku lalu ku semprot ke bagian tubuhku. Menyenangkan bukan? Apakah ini tindakan kriminal? Ah kurasa tidak. Apa salahnya mencoba parfum baru?

Dan kenangan itu kembali merasukiku. Dulu kita saling menyemprotkan parfum yang bermacam macam aromanya dari parfum anak kecil sampai dewasa, bercampur dibaju batik biruku dan bercampur di sweatermu. Kita saling tertawa lepas sampai akhirnya aku merasakan aroma tubuhku yang tak karuan lalu aku menyerah.

Kuhembuskan napasku berat, aku meninggalkan tempat itu dan kuharap kenangannya juga tertinggal seperti aroma parfum. Pertama dia akan membekas, membuai, memberikan ketenangan pada si pemilik akan tetapi itu semua tak kan berlangsung lama. Aroma itu akan hilang walaupun kita terkadang ingin memiliki aroma tersebut agar menjadi milik kita.
Dan sekarang aku membenarkan pendapat bahwa aroma parfum dapat membangkitkan memori ke masalalu.

“Aduh”
Aku kaget karna aku menabrak seorang perempuan yang kuperkirakan sebaya denganku.
“Maaf aku tak sengaja” ucapku.
Tampak lelaki yang juga seumuran disamping perempuan itu menoleh kearahku lalu tersenyum.
“Aahh tak apa mbak, gakpapa kok” jawab perempuan itu.
Aku tersenyum.

Mereka melewatiku, pandanganku masih terkunci kepada mereka, melihat mereka seperti ada yang aneh.

Ice cream. Cornetto dan magnum

Aku melirik disebelah kiriku, benar saja memang terdapat tempat ice cream disitu.

“Ini kembaliannya mbak, terimakasih datang kembali.”

Aku mengangguk, kulihat kantong plastik putih yang sudah kubeli. Ya benar, cornetto dan magnum. Oke ini sudah cukup bodoh.
Aku keluar dari toko tersebut lalu berhenti di dekat eskalator, ku ambil ice cream cornettoku lalu kubuka. Aku menikmatinya sambil melihat televisi besar di hadapanku yang sedang memutarkan film dinosaurus. Sebenarnya aku tak mengerti apa alur ceritanya, akan tetapi saat ini hanya tayangan itu yang berhasil menarik perhatianku walaupun terkadang petugas yang tak jauh dariku melirikku dan aku yakin dia berpikiran aku akan mencuri televisi besar itu. Sadar daritadi aku di awasi akhirnya aku segera menghabiskan ice creamku lalu aku memutuskan untuk pulang, sudah cukup untuk bernostalgia yang tak ada untungnya ini, walaupun aku berharap aku bertemu dengannya waktu ini juga akan tetapi tak mungkin. Ini bukanlah film yang bisa seenaknya diganti endingnya atau bukanlah drama yang kita tak sengaja bertemu dengan cara saling bertabrakan lalu buku buku berjatuhan. Konyol.

Ini nyata

Dan tak ada pengulangan

Aku berjalan menuju parkiran, mengambil motorku lalu sesegera mungkin pergi. Hari begitu cerah, tak ada tanda-tanda hujan turun. Tak ada istilah “hujan-hujan bareng” lagi.

Lampu lalulintas baru saja berganti merah. Aku bergumam kesal karna harus mengerem tiba-tiba.
Spion salah satu pengendara didepanku begitu silau dan refleks aku segera merunduk lalu kutemukan bahwa magnumku sudah mencair. Aku mengambilnya dari kantong plastik lalu sedikit ku tekan. Benar saja ice cream itu telah mencair, tak lagi berbentuk, tak lagi menarik, dan sudah berubah.

Dan kuharap perasaanku kepadamu juga bisa seperti itu. Berubah.
Aku berharap setelah hari ke seratus bahkan ke dua atau tiga ratus selanjutnya setelah kau pergi aku sudah bisa melupakanmu.

Mentari sudah mencondong ke arah barat, lampu-lampu jalanan sudah mulai di hidupkan. Aku memakirkan motorku di sebuah tempat makan “Nasi Goreng Kantor Notaris”, tempat makan lesehan yang terdapat di tengah kota. Setelah aku meletakan helmku lalu aku bergegas memesan karna rasa lapar sudah memberontak. Aku memilih tempat duduk yang strategis di depan pintu sebuah rumah dan langsung terlihat suasana jalanan yang hari ini cukup padat. Tak lama kemudian pesananku datang, ya sepiring nasi goreng dan segelas es jeruk. Sederhana dan murah. Menikmati suasana malam yang dingin dan mendengarkan lagu-lagu hitz yang dibawakan oleh pengamen jalanan yang terkadang lewat dihadapanku.
Berkali kali aku mencoba untuk tidak memutar kotak memori yang sudah aku kubur dalam, tapi pada kenyataannya sekarang aku sudah membongkar semua kotak itu. Tak habis pikir kenapa harus sesusah ini. Dia bahagia dengan perempuan lain yang notabenenya pasti lebih baik. Dan sedangkan aku? Terjebak nostalgila yang tak tau sampai kapan ujungnya?

Tak adil.

Sudah cukup lelah aku jika berdebat masalahmu dengan perasaan dan pikiranku yang jelas sangat berbeda pendapatnya. Pada intinya mau tidak mau, suka tidak suka, ingin tidak ingin semua akan tergantikan. Tak ada ending jika kita masih membaca lembaran lama yang sudah jelas akan akibatnya.

Oke cukup untuk memotivasi diri sendiri.

Tak terasa hanya tersisa satu sendok nasi goreng dan kuningan telur di piringku, cukup lama aku menghabiskannya karna yaaahh semua seakan terekam jelas disini. Dimana saat kita akan pulang namun gerimis malah turun dan mengakibatkan kita menunggu reda lalu kita mengobrol, saling menceritakan satu sama lain sampai tak terasa suasana sepi yang menandakan bahwa tempat itu sudah mau tutup, sampai-sampai saat aku membayar, bapak yang berjualan berkata, “Maaf Mbak sudah habis”, haha padahal aku mau bayar.

Kalau mau pulang kok harus nunggu tempatnya tutup begitulah celotehku.

Oh tidak, apakah aku mengingatnya lagi?

Lagu Shawn Mendes – The Weight mengiringi perjalananku untuk pulang ke rumah, jarum jam sudah menunjukan angka 10 yang artinya aku menghabiskan waktu hampir 3 jam di nasi goreng tadi.

Dan inilah akhirnya meskipun semuanya telah usai namun dia masih saja tak mau mengakhiri apa yang sudah terjadi, masih saja mengikir memori dan masih saja berandai. Hah aku benci diriku sendiri.

… Put you in the past
Try to forget you ’cause it’s over
And every time you ask
I’ll pretend I’m okay
You’re inside my head
In the middle of the night
When I don’t feel right
I dream I can hold you

Dari ombak di tengah lautan luas yang seakan diam namun mendoakanmu dari kejauhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s