Short Story: Happily N’Ever After

Pada awalnya aku sedang terpuruk dengan apa yg disebut putus cinta. Banyak yang beranggapan putus cinta adalah hal yang sangat menyakitkan. Itu benar. Tak ada yang menginginkan perpisahan. Kita tau pada awalnya memang sesuatu yang datang pasti akan pergi. Entah dalam alasan apa dan kapan. Kita tak bisa memprediksi bagaimana seseorang yang kita sayang akan pergi, karna istilah “pergi” akan tetap menjadi misteri. Lalu bagaimana dengan kita? Bukankah seseorang itu membutuhkan oranglain untuk berkeluh kesah? Ya. Itu benar. Solusinya, kita harus menjaga seseorang yang kita sayangi, hargailah sebuah pertemuan dan hargailah sebuah perjuangan. Jangan sepertiku. Yang menyadari semuanya saat dia menghilang.
Oke kita kembali kepada putus cinta.
Putus cinta. Terkadang kita dipaksa untuk move on disaat perasaan ini menginginkan untuk tetap tinggal. Apalagi putus cinta atau mengakhiri suatu hubungan yang ditentukan oleh satu pihak. Hanya satu pihak.

Sangat teramat sakit jika alasan yang diberikan tidak masuk akal.

“Kamu terlalu baik buat aku.”
“Aku udah bosen”

Alasan yang sangat populer. Jika aku memang yang terbaik kenapa kamu menghilang? Kamu mencari yang terburuk?
Kamu bosen? Enak banget. Aku lebih bosen kalik. Tapi aku tetep pertahanin karna aku sayang sama kamu.

 

Pada akhirnya semua berubah. Dia memang tak pantas diperjuangkan. Bodohnya dulu aku mempercainya seutuhnya, melepaskan hobiku untuknya agar dia senang tapi tak ada timbal balik.

Aku sempat terpuruk. Aku menutup hatiku rapat. Aku tak ingin jatuh cinta lagi. Untuk apa jatuh cinta jika akhirnya selalu menimbulkan luka? Bukankah seharusnya kita akan merasakan kebahagiaan? Semenjak itu aku tak ingin lagi berurusan dengan hati.

Banyak yang datang di kehidupanku. Memang benar istilah mati satu tumbuh seribu. Namun semuanya hanya sekedar “mampir” dan aku tetap menutup hatiku.

Sampai akhirnya kau datang. Aku tak pernah berpikir kaulah yang akan membuatku sampai seperti ini. Pada awalnya aku hanya mengirimu pesan, aku hanya ingin menanyai sahabatku akan tetapi chat tetap berlanjut. Kita menjadi sedikit dekat, saling mengobrolkan hobi yang sama. Lambat waktu aku curiga kau menaruh hati kepadaku dan itu benar.

Syok

Tidak. Aku biasa saja. Aku membalasnya singkat, “Kita temenan aja”.

Kau datang diwaktu yang sangat tak tepat. Ketahuilah  waktu itu aku belum bisa membuka hati. Aku masih takut -teramat takut- jika aku tersakiti kembali. Apalagi kau sahabatnya. Yaa….itu merupakan pertimbangan yang besar untukku. Aku sempat berpikir bahwa aku hanya akan menjadi bahan permainan kalian.

Sedikit menyesal aku membalas seperti itu padahal hanya kau yang sejauh ini kuat jika aku membalas pesanmu singkat seakan tak memiliki hati. Namun itulah yang terjadi, aku tak boleh menyesal dengan keputusanku.

Kita tetap dekat namun semakin lama aku menyadari perasaan ganjil yang aku rasakan saat menerima pesanmu atau saat kita hang out. Ternyata benar, singkat cerita aku menyukaimu. Dan aku menyumpai diriku sendiri karna tak bisa mengontrol perasaanku. Setelah apa yang kulakukan lalu aku menyukaimu? Bodoh. Aku mulai sedikit menjauh agar aku bisa memikirkan kita tak harus saling memiliki karna aku harus teguh dengan keputusanku dulu.

Siapa sangka ternyata hal tersebut malah membuatku semakin tersiksa. Akhirnya aku mengikuti permainanmu, aku menyukaimu dan aku akan menanggung hal tersebut. Seiring berjalannya waktu, roda telah berputar.

Aku menyayangimu dan kau mencapakanku.

Apa aku bilang? Tak ada ending di hidup ini yang berlabel “bahagia”. Aku disakiti lagi dan aku harus bangkit sendiri. Kukira kau adalah penyembuhku, ternyata sama saja. Kau jugalah yang menyakitiku.

Bukan.

Aku yang menyakitimu dan selanjutnya kau.

Seimbang.

Aku menerimanya dengan lapang dada, karna aku sudah tau resikonya. Aku mulai menyembuhkan luka sendiri, sedangkan kau? Entah kemana ku lihat kau suka meloncat dari hati ke hati yang lain sedangkan aku? Lihatlah hanya bisa melihatmu dari kejauhan.

Kau menghilang 39 hari. dan tepat saat 40 hari kita kembali berkirim pesan lagi dan ternyata perasaan itu masih ada. Padahal sebelumnya aku telah menyerah beberapa kali, aku berjalan berlawanan denganmu, aku memaksa diriku tak menengok lagi kearahmu. Aku ingin bebas, aku ingin membebaskan perasaanku, aku tau sangat percuma menahanmu, aku hanya menahan kenangan kita bukan dirimu. Akan tetapi kenyataannya aku masih menunggumu, aku masih berharap engkaulah yang menemani hari-hariku kedepan. Aku masih mematung, tak bisa memilih jalan mana yg akan aku lalui.

Merelakanmu

Atau

Memperjuangkanmu

Seperti tak ada habis habisnya mantramu memantrai pikiranku. Aku tak peduli dengan kenyataan bahwa kamu sudah berubah. Aku menutup telinga saat semua menuduhku aku yang salah. Aku menutup mata saat melihatmu dengannya.
Aku tau aku bodoh.
Memimpikanmu seakan sudah menjadi film yang selalu terekam di saat bunga tidur menguncup. Sebenarnya aku sudah menduga tak akan ada lagi kesempatan untukku tapi hati ini berkata lain. Berkata bahwa sesungguhnya aku tak boleh menyerah.

Dirimu.

Dulu yang pernah mati matian mendapatkan perhatianku, yang bersusah payah mendobrak pintu yang sedang kukunci rapat, yang bersikeras mengatakan aku suka sama kamu lalu aku mengacuhkanmu.

Diriku

Sekarang yang mati matian mendapatkan perhatianmu, yang bersusah payah mendobrak pintu yang sudah kau kunci rapat, yang bersikeras mengatakan aku sayang sama kamu lalu tak ada jawaban.

Aku tak pernah menginginkan hal ini. Semua orang tak pernah senang jika perasaannya tak terbalaskan.

Begitu juga dengan diriku.

Perpisahan seringkali membuat seseorang lepas kendali. Ada yang berusaha bertahan sendiri. Tidak mau menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya tidak lagi membutuhkannya. Setidaknya, sampai dia lelah. Atau mungkin sampai dia sadar bahwa berjuang sendiri itu melelahkan. Tidak ada gunanya memperjuangkan seseorang yang jelas tidak mau diperjuangkan. Namun tidak sedikit yang terus saja mencoba untuk memperbaiki segalanya. Atau ada yang lebih parah lagi, demi melupakan seseorang ia memaksa dirinya membenci. –Boy Candra

Aku tak akan bisa memaksa diriku sendiri untuk menjauh darimu apalagi belajar membencimu. Tak bisa. Tak akan bisa.
Untuk apa aku membencimu? Dengan membencimu bukan berarti semua bisa dengan cepat berakhir kan?
Untuk apa aku membencimu? Malah akan semakin diriku mengingatmu lebih dalam. Cukup, lukanya cukup.

Aku tak sopan. Aku tak punya sopan santun. Aku akan pergi jika itu maumu, aku menyadarinya.

Seandainya semua –kenyataan- bisa kuputar ulang, aku tak akan meninggalkannya, aku akan mencoba menyelesaikannya walaupun kutau jawaban yang akan kudengar. Aku tau kamu telah mentup pintu untukku.

Mungkin kau beraggapan kau memilih mengganggapku tak pernah ada. Kau mungkin beranggapan aku datang dengan cara yang dangkal, seolah tak pernah ada luka yang ku sesal. Ketahuilah aku tak memendam dendam. Aku sudah memaafkanmu jauh hari. Sebab maaf mungkin bisa menghilangkan segala luka, namun tak bisa mengembalikan semuanya seperti semula.

Mencintai tak boleh memaksa. Aku tak akan memaksamu menerimaku lagi.
Aku salah jika aku kembali kepadamu. Aku sangat salah jika aku merusak harimu dengan aku kembali lagi di kehidupanmu setelah apa yang aku lakukan kepadamu dulu.
Aku adalah seorang yang tak bisa bersyukur.
Betapa bodohnya aku membuang orang yang sebenarnya sangat aku butuhkan.
Mengikhlaskanmu mungkin bisa sedikit meringankan bebanku, aku tau ini keputusan yang sangat sulit yang bisa kuperbuat.
Moveon. Dimana rasa sayang masih haus akan dirimu.
Ketahuilah ini sangatlah sulit untukku.

Kita kembali ke masalah

Aku masih menyayangimu meski tak lagi membuatmu peduli. Masih memperhatikanmu meski tak pernah aku tunjukkan. Masih terus mengingat percakapan kita disaat waktu luang meski akhirnya aku harus mengurangi rindu. Masih otomatis tersenyum disaat kenanganmu tiba-tiba bersarang di pikiranku.

Masih jatuh cinta meski tak lagi kuperjuangkan. Masih berusaha mengurangi semua tentangmu yang setiap saat aku pikirkan. Karna cinta membuat seseorang lupa jika kita telah melepasnya.

Aku mungkin saja pergi tapi perasaan ini akan ada untukmu.
Kaulah sesuatu yang kulewatkan dan aku tak akan melewatkanmu. Lagi.

Terimakasih untuk beberapa bulan ini. Pelajaran yang kau berikan sungguhlah amat berharga.

Mungkin suatu saat aku akan menertawai postinganku ini. Mungkin aku akan membodoh bodohi diriku sendiri. Mungkin aku akan menggeleng gelengkan kepalaku. Ya semua itu baru ekpetasi, saat aku merasa biasa saja jika aku mendengar namamu disebut.

Maafkan jika kutak bisa mengontrol emosi dan harapan yang aku buat 
karna terkadang sebuah khayalan atau mimpi itu lebih indah daripada 
kehidupan nyata, sekali lagi maaf aku telah menyukaimu.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s