Sebab aku menyukaimu

“Aku terharu.”, mungkin memang kata itu yang kini bisa mewakili perasaanku.
Kubuka sekali lagi surat demi surat yang tak sengaja ku temukan di laci meja yang tersusun rapi dari tanggal dibuatnya surat tersebut.

“Hey kau. Aku tak akan melupakan janji-janjiku kepadamu :)” begitulah isi salah satu surat bewarna biru muda.

Kubuka lagi surat yang bewarna merah hati,    “Oiya, tau tidak? Jika kamu memang merindukanku, cobalah peluk boneka yang aku berikan kepadamu. Semoga kamu bisa menghilangkan rasa rindumu kepadaku, hahha tak apalah sedikit berpuitis, ini semuakan hanya untuk kamu :3. Aku sayang kamu :)”

Aku masih mematung, begitu romantisnya untaian kata yang tertulis di surat-surat ini. Namun sedetik kemudian aku menyadari bahwa disetiap surat berjumlah puluhan ini tidak ada nama ataupun inisial yang jelas dari siapa yang menulisnya. Yang tertera hanya kata “Orang Yang Menyayangimu❤ span=””>

Aku masih bergumam, berpikir dengan serius, untungnya kelas masih sepi hanya ada tiga atau empat orang yang sedang sibuk menyalin lembar demi lembar PR yang belum terselesaikan. Namun entah mengapa, perhatianku terenggut oleh surat-surat tanpa pengirim ini. Begitu bodohnya aku tak mengetahui siapa yang selalu duduk di bangku belakang dekat jendela yang saat ini kutempati.

“Sita!” panggil seseorang yang berada disampingku. Bisa kulihat bayangan orang ini seakan menundukkan kepalanya, dengan secepat kilat aku langsung mendorong kumpulan surat tadi ke laci meja.

“Ha? Ya ada apa?” ucapku menoleh ke sumber suara. “Rio?” suaraku melemah saat menyadari lelaki berpostur tinggi dan pendiam ini yang sedari tadi memanggilku.
Dilihatnya sekali lagi mukaku yang mungkin sudah sama dengan kepiting rebus, “Kau sedang apa dibangkuku?”

DEG! Ini bangku Rio? Mungkinkah?

“Ah tidak tadi sebenarnya aku sedang piket dan baru saja beristirahat sebentar disini.” kataku spontan. “Emmm……maaf kalo aku ganggu aku mau pergi kok.” lanjutku langsung beranjak dari bangku Rio menuju keluar kelas.
Kubuka genggaman tanganku yang sedari tadi ku sembunyikan. Entah mengapa masalah pagi ini membuatku sangat ingin mengorek siapa sebenarnya Rio itu? Setelah menemukan tempat yang aman,aku segera membuka lipatan surat yang tadi sengaja kuambil.

“Aku dan Kamu…Aku dan Kamu….Aku dan Kamu… kalimat tersebut hampir memenuhi satu kertas blocknote yang sudah agak kusut karena kugenggam. Kalimat tersebut menyambung di lembar berikutnya.

“Aku dan Kamu = KITA. Aku tau ini sulit. Aku tau aku melukai hatimu. Maaf maaf hubungan kita tak bisa berjalan lagi. Aku memang munafik karna aku merusak hubungan yang kita bangun selama 9 bulan ini. Namun yang aku takutkan adalah kamu bisa terluka lebih dalam lagi jika hubungan ini diteruskan. Yang terpenting kita adalah aku dan kamu yang selalu tertawa melewati hari demi hari. Ingat salah satu janjimu dulu? Apapun masalah yang kita hadapi, cobalah menanggapinya dengan senyuman walaupun kutau itu membohongi perasaan kita. Yang terpenting jangan sekali kali kita terlihat lemah di hadapan orang lain. Kita harus kuat, berdiri sendiri dalam keterpurukan. Ingatkan? Ayolah hapus air matamu itu!🙂 Oiya, terakhir aku mohon kamu bisa melupakanku dan menggantikanku dengan orang yang lebih bisa mengerti perasaanmu.🙂
Bye, aku tak akan melupakan “KITA”

Aku merasa pandanganku kabur, air mataku sudah berada di pelupuk, dengan segera aku menghapusnya. Lelaki itu, Rio sungguhkah ia menulis semua ini? Jika iya, beruntung sekali wanita yang mendapatkannya.
“Teng….teng….teng….” Lonceng sekolah telah mengisyaratkan jika siswa harus segera masuk kekelas masing-masing. Dengan langkah cepat aku segera kembali ke kelas. Tampak kelas sudah ramai dengan siswa dan siswi. Selama itukah aku mencermati surat milik Rio?
Sial! Gerutuku saat menyadari tasku kini masih berada di atas meja Rio.
“Sita, kamu duduk sama aku?” ucap Rio dengan kerut yang berada di dahinya.
“Aduh, maaf salah kursi, hehe.” cengirku
“Dasar aneh.” ucapnya pelan
Segera ku ambil tas yang sedari tadi di meja milik Rio lalu menaruhnya di bangku samping Rani. Pikiranku masih menjelajahi siapa Rio sebenarnya? Mengapa orang yang sederhana -dalam arti sifat- bisa begitu romantis?
Pelajaran pertama kosong, mataku masih saja memandang Rio yang sedang sibuk bermain dengan ponselnya.
“Kenapa…..aku tak pernah mengetahui jati dirinya”

Kutak menyangka lebih dari satu semester aku bersamamu
aku tak mengetahui jati dirimu. Untukmu yang sekarang ini
menguasai pikiranku, kamu begitu sederhana dengan apa yang kau miliki.
Ku harap kita dapat menjadi apa yang kupikirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s