When I Meet You #2

Teori. Ya, Sinta tetap tak bisa menghapus Reinald dari hari-harinya. Sejak kejadian dua minggu lalu, Reinald telah berubah karna satu hal, Reinald ditolak oleh Sari. Berubah dalam artian, sekarang kebiasaan yang selalu mereka lakukan perlahan lahan mulai menghilang. Mulai dari tak pernah berkirim pesan, lalu berlanjut ke mereka tak pernah menyapa satu sama lain, sampai Reinald seolah tak mengenal Sinta. Contohnya saja saat Sinta berjalan melewati depan kelas Reinald,  tak pernah Reinald mengatakan apapun bahkan menoleh kearahnya pun dia tak pernah.
Sinta merasa serba salah. Sakit. Diacuhkan tanpa kau ketahui penyebabnya. Ingin sekali Sinta menanyainya, akan tetapi keinginan itu terkurung karna ia menyadari ia bukan siapa-siapa. Dia hanya sebatas teman. Ya, teman yang menyukai temannya sendiri. Kegelisahan Sinta mulai menjadi kebiasaan, ia bahkan telah mencoba tidak menghiraukan Reinald saat mereka bertemu. Terlalu sakit untuk melihatnya. Sampai akhirnya event sekolah mempertemukan mereka kembali. Funbike.
Mau tak mau Sinta kembali bertemu dengan Reinald yang sangat-sangat dingin kepadanya. Tak seperti dulu.
“Reinald, nih proposalnya, kata Bu Lisa ini harus sudah diselesaiin karna Funbike udah H-7.” Ucap Sinta dengan senyum.
“Oke makasih.” Balas Reinald lalu berlalu meninggalkan Sinta yang sedang menggiggit bibir bawahnya. Mencoba menahan perbuatan Reinald yang sangat tak diharapkannya.
“Aku kuat.”lirih Sinta.
“Hey Ta, kantin yuk.” Ajak Dira yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
“Ah ayok.”
Sesampainya di kantin, Sinta bertemu kembali dengan Reinald dan seorang perempuan. Winna.
‘Apa yang mereka lakukan?’ batin Sinta
Mereka begitu terlihat sangat senang, Winna adalah teman sekelas Reinald. Setau Sinta mereka hanya berteman, tak lebih. Akan tetapi ini terasa beda. Terlihat Reinald mengelus kepala Winna dan hal itu sama seperti apa yang dilakukan dulu kepada Sinta.
“Duduk dimana Ta?” ucap Dira
“Sorry Dir aku mau ke kelas dulu, aku lupa fotocopy matrik buat funbike. Maaf ya.”
Tentu saja Sinta berbohong. Dia tak kuat melihat Reinald, orang yang dia sukai bersama perempuan lain. Cemburu. Tentu saja. Sinta menundukkan kepala agar ia tak melihat kebahagiaan Reinald yang menjadi kesedihannya. Tapi, percuma mata dan hati Sinta tak memiliki pemikiran yang sama, Sinta menoleh ke arah Reinald, sedetik mata mereka saling bertemu, tapi Reinald langsung membuang muka lalu melanjutkan berbincang dengan Winna. Sinta mempercepat langkahnya. Ia mengumpat seharusnya ia tak melihatnya.
***

Keesokan harinya Sinta ke Perpustakaan sekolah, saat ia akan duduk dilihatnya Reinald yang sedang membaca sebuah buku biologi serta mencoret coret kertas dengan penanya. Sinta meliriknya lalu ia memilih tempat duduk yang strategis agar ia bisa leluasa melihat Reinald. Beberapa saat kemudian terbukalah pintu perpustakaan, seketika itu juga Reinald mengangkat kepalanya kemudian tersenyum.
“Sari?” kata Sinta kaget
Reinald tak hentinya mengamati Sari yang sekarang sedang mengarah ke rak buku biologi dan yap rak biologi itu tepat di belakang Reinald. Reinald memutar tubuhnya lalu berdiri menghampiri Sari yang tampak bingung. Sinta tak mau tinggal diam diapun menuju ke arah rak buku biologi kemudian berdiri di sisi lain rak tersebut sembari menutupi wajahnya menggunakan buku yang tadi ia baca.
“Lagi nyari apa Ri?” ucap Reinald seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
Sari menoleh, tampaknya ia tak begitu senang dengan kehadiran Reinald, tapi dia mencoba terlihat biasa-biasa saja.
“Bukulah.” Jawabnya
“Maksutku buku apa gitu lho, siapa tau aku bisa bantuin.” Sekarang Reinald memandang wajah Sari.
‘Oh Tuhan…..kenapa ia tak bisa melihatku seperti apa yang ia lakukan ke Sari’ lirih Sari
“Kenapa sih, ganggu banget.” Kesal Sari kemudian pergi
“Sari……..” Reinald berusaha mengejar namun dia masih terdiam di tempatnya, “Aku gak akan menyerah walaupun kamu acuhin aku, aku yakin suatu saat kamu bakal kembali lagi ke aku.” Sambungnya.
‘Bodoh…..dia gak suka kamu Reinald seharusnya kamu bisa buka mata kamu. Apda orang yang menyayangimu’ Batin Sinta
Tanpa Sinta sadari Reinald berjalan kearahnya.
“Aduh.” Ucap Sinta
“Maaf….maaf aku gak sengaja. Maaf aku gak liat kam…..Tink.” ucap Reinald
Sinta menoleh ke arah kanannya, “Reinald….oh hey.” Jawab Sinta.
‘Reinald belum melupakan panggila khusus untukku?’
“Kamu gakpapa kan? Sorry banget aku tadi gak liat jalan, hehe.” Ucap Reinald seraya tersenyum.
Deg! ‘Kenapa saat aku melihat senyumnya jantungku berpacu berkali kali lipat. Aku harap Reinald tak mendengarnya.’ Batin Sinta
“Gakpapa kok.” Kata Sinta dengan senyumnya
“okelah kalau begitu…..oiya aku duluan ya” ucap Reinald
Sinta mengangguk, dilihatnya Reinald yang sedang membereskan bukunya di meja bacanya tadi.
“Reinald” panggil Sinta
“Ya? Ada apa Tink?” jawab Reinald
“Eh…..enggak jadi.”
“Loh……yaudah aku duluan ya.” Ucap Reinald yang sekarang telah pergi.
“Reinald…….aku menyukaimu.”
***
Setiap aku akan mengatakannya mengapa aku menjadi kacau? Apa ada yang salah denganku? Rasanya seperti lidahku membeku da  nkata-kata yang telah aku rangkai seperti hilang begitu saja..
Aku tak mengerti, apakah ini Jatuh Cinta? Apakah serumit ini?
Disaat aku akan memperhatikanmu, kamu selalu melihatnya.
Disaat aku menunggumu, kamu menungguinya
Disaat aku memberikan perhatian, kamu mengharapkan dia yang melakukannya.
Apa sampai saat ini dia tak sadar jika aku selalu cemburu saat ia menceritakan tentangnya? Tentang ia yang tak mau menyerah walau tau jawaban yang pahit lagi terucap di bibir orang yang dia sayang?
Aku tau, seharusnya aku tak boleh mengharapkannya. Mengharapkannya, sama artinya dengan menunggu pesawat di stasiun. Tak mungkin terjadi.
Khayalan memang selalu sempurna. Apalagi kalau jadi kenyataan. Serasa hidup ini kita yang mengendali.
“Sinta!”
Sinta menutup diarynya kemudian menoleh ke arah sumber suara
“Dira….apa yang terjadi? Kenapa kamu ngos ngosan?”
“Itu….itu…” nafas Dira masih tak teratur.
“Iya apa?” kata Sinta tak sabar
“Reinald…..” kata Dira, “Reinald pingsan sekarang di UKS.”
“Apa?”
***
               Aku melihatmu. Kamu melihatnya. Sesederhana itu.

2 thoughts on “When I Meet You #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s