When I Meet You

“Reinald!” panggil Sinta seraya melambaikan tangan kanannya kepada seseorang yang sedang mendribble bola basket.

Orang yang bernama Reinald itu kemudian melirik Sinta yang berada di belakang pagar besi di parkiran siswa. “Sebentar ta, tunggu aku segera kesana.” Ucapnya tetap mendribble bola basket kemudian melemparnya tepat ke ring lawan.

“Yeaaah……” teriak Reinald karna bola itu masuk dengan sempurna.

Sinta mendengus kesal, kalau saja ini bukan karena ia meminjam tugas sekolah Reinald, dia tak mau menunggu Reinald yang masih melanjutkan permainan basketnya dan tak menghiraukannya.

Setengah jam sudah berlalu namun Reinald sepertinya tak memperdulikannya. Sinta juga telah bosan dengan aktivitasnya yang sedari tadi mendengarkan lagu-lagu yang berada di list handphone nya. Tanpa ragu Sinta mulai memutar kunci motornya yang sedari tadi sudah menggantung di motornya. Suara motor Sinta membuat Reinald memalingkan wajahnya, dengan sigap dia melempar bola basket yang sedang ia bawa ketemannya kemudian ia berlari menuju ke arah Sinta.

“Tunggu!”

Sontak Sinta segera menoleh, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang lantaran melihat Reinald yang sedang berdiri di balik pagar besi kemudian tangan kanannya mencengkram pagar besi yang memisahkan mereka. “Tunggu” lirihnya lagi dengan nafas tersenggal senggal. Keringatnya mulai turun dengan bebasnya. Keren.

Sinta masih terpaku, tak pernah ia berpikir jika Reinald ternyata memiliki kharisma yang begitu mempesona ditambah lagi dengan perpaduan langit yang telah berubah menjadi keunguan memberikan kesan hangat saat Sinta memandang mata teduh Reinald.

“Ya Tuhan” lirih Sinta tiba-tiba.

Reinald hanya tersenyum. Sinta tambah tak bisa mengontrol hatinya.

“Ada apa?” tanya Reinald karna tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut Sinta.

“Oh” Sinta segera sadar, dengan cepat ia memberikan hasil laporan praktikum biologi ke Reinald. “Ini……makasih ya pinjemannya.”

Sinta menggulung kertas-kertas itu lalu memasukkannya ke lubang pagar. Reinald segera menerimanya. “Cuma itu? Okedeh” lagi-lagi senyumnya merekah.

Sinta hanya mengangguk “Terimakasih.”

“Tak masalah, oiya aku kembali latihan dulu ya.” Katanya kemudian berbalik badan tanpa memperhiraukan Sinta yang sekarang senyum-senyum sambil melihat punggung bernomer 7. Ya Reinald.

Seperdetik kemudian Sinta segera menggeleng gelengkan kepalanya, “Apa yang ku pikirkan”

***

            Pagi ini udara sangat dingin, Sinta merapatkan jaketnya kemudian berjalan melewati kelas XI IPA 2 sembari melihat-lihat ruangan yang masih sepi itu, terlihat hanya tiga orang yang berada di dalam ruangan tersebut.

Sinta kembali memalingkan wajahnya ke depan karna ia tak menemukan seseorang yang ia cari. Sinta melangkahkan kaki menuju kelas XI IPA 4, ruangan itu juga sepi tak beda jauh dengan ruangan yang tadi dilihat oleh Sinta. Sinta melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah tujuh kurang sepuluh menit. “Pantas saja sekolah masih sepi.” Lirihnya kemudian duduk dibangku nomer 3 dari depan.

Pada pelajaran fisika ternyata kosong, kelas XI IPA 4 langsung ramai dengan candaan setiap siswa entah ada yang bernyanyi, bersanda gurau ataupun senyum senyum sendiri sembari melihat layar handphone.

“Ciyeeee…….senyum-senyum sendiri nih ye, kenapa? Lagi fall in love ya?” gurau Dira yang tak lain adalah sahabat Sinta.

Sinta mengamati Dira kemudian memeluknya.

Dira tampak kehabisan nafas lalu mendorong tubuh Sinta, “Kamu kenapa sih? Kesambet ya?” kata Dira yang sibuk membenahi kerudungnya yang berantakan.

Sinta tersenyum kemudian menunjukan handphone nya, kening Dira mengkerut kemudian ia menyipitkan kedua matanya membaca nama yang tertera pada bagian atas pesan singkat yang ditunjukkan oleh Sinta.

“Reinald?” ucap Dira setengah tak percaya. “Reinald?” katanya lagi seraya melihat Sinta yang malah senyum-senyum sendiri. “Ada apa ini? Coba ceritakan apa yang sesugguhnya terjadi!”

“Kau tak lihat? Aku smsan sama Reinald.” Jawab Sinta tanpa memperdulikan temannya yang melototinya.

“Bagaimana kau bisa kenal dia? Bukankah dia anak sebelah?”

“Dari acara sekolah terus kita akrab terus aku sama dia tukeran nomer handphone. Dan terakhir ini aku kemarin meminjam laporan praktikum biologinya. Dia baik ya dia peduli banget sama aku, liat aja smsnya full dengan emoticons. Ditambah lagi dia manis juga” senyum Sinta kembali terlihat saat ia membayangkan Reinald yang sedang bermain basket kemarin.

“Ta, kamu baru kenal dia. Jangan banyak berharap, mungkin dia emang orangnya baik gitu.” Lirih Dira yang menjadikan Sinta berhenti tersenyum kemudian meliriknya tajam. “Kau tau itu kan? Jangan meracuni pikiranmu dengan cinta sesaat. Kau belum mengenal jati dirinya.” Lanjut Dira.

“Siapa yang bilang aku mencintainya?” sangkal Sinta

“Lantas apa yang sekarang kau lakukan? Senyum-senyum sendiri tanpa alasan. Sudah jelas kau menyukainya!”

Sinta terdiam mencoba menerca perkataan Dira kemudian dia menoleh kearah Dira, “Aku tidak menyukainya sepertinya aku ngefans sama dia saja.” Kata Sinta yang telah menemukan kata yang pas untuk mewakili hatinya.

“Fans? Hahaha, kau lucu. Kau itu sekarang sedang terjebak dalam jatuh cinta diam-diam. Lebih tepatnya Pengaggum rahasia.” Dira berusaha meyakinkan sahabatnya.

“Ku bilang aku tidak menyukainya.” Sinta menarik napas dan menghembuskannya perlahan, “Hanya saja terpesona dengannya.” Lirihnya.

Dira mengangkat ujung kiri bibirnya, “Lihat saja nanti bagaimana endingnya, kau memang masih mengelak sekarang.”

Sinta hanya mematung, ia menunduk dan menyandarkan keningnya di tepian meja, lalu mendesah lebih keras.

***

            Malam harinya seperti biasa Sinta tersenyum sendiri di kamarnya seraya membalas pesan singkat kepada seseorang yang kini mengisi harinya.

Gimana tugas biologinya? Udah dikumpulin?😉 Begitulah pesan dari Reinald.

mmm…..belum kan jadwalnya besok Selasa J eh tadi kok kamu deket banget sama Sari, kamu suka ya sama diaa :p. Balasku

owalah…..ha? enggak kok kita cuma temen, aku kan maunya sama kamu aja.” Balasnya.

Sinta mengambil napas dalam, lalu menghembuskannya. Segurat senyum mengembang. “Apa yang terjadi?” ucapnya. Sinta bukannya tidak suka tapi ia sangat cemas.

Ha? Maksutnya? jangan gombal deh~. Balas Sinta setelah sekian lama menyadarkan hatinya walau ucapannya hanya gurauan saja.

Yagitu deh :3, yaudah ah aku tidur dulu ya….aku udah ngantuk nih J

oke J yaudah tidur aja, aku juga mau tidur kok.

Setelah Sinta menekan tombol kirim, dia memejamkan mata lalu ia memeluk boneka teddy bear yang sedari tadi berada di sampingnya.

“Apa aku benar menyukainya? Apa maksut dari pesan yang ia kirim tadi?” kata Sinta seraya membaca ulang pesan singkat dari Reinald takut ia terlalu berimajinasi. Tapi sayangnya itu nyata.

***

            Bel sekolah telah berbunyi nyaring diikuti suara langkah dari para siswa yang menuju gerbang sekolah. Sinta masih membereskan buku-buku yang berserakan di mejanya. Tanpa ia sadari seseorang telah berada di sampingnya.

“Hey.” Ucap seseorang tersebut.

Sinta yang akan beranjak sedikit terlonjak, “Eh? Reinald? Apa yang kau lakukan disini?”

Reinald tersenyum, dan lagi-lagi membuat suara degupan dihati Sinta. “Gakpapa iseng aja aku tadi lewat kelasmu terus liat kamu sedang sendirian dikelas yaudah aku masuk aja.” Jawabnya.

“Oooh…..gitu.” hanya itu yang dapat Sinta ucapkan karna ia sendiri berusaha agar senyumnya tidak terlihat namun sia-sia saja senyumnya tak bisa dihalangi.

“Kamu kenapa senyum-senyum gitu? Lucu deh kayak Tinkerbell” ucapnya yang membuat menatapnya.

“Tinkerbell?” kataku mengulangi ucapan Reinald.

“Iya Tinkerbell yang selalu berada disamping Peter Pan, dia selalu muncul di sampingnya, selalu menemaninya kemanapun ia mau.”

Sinta masih menerawang Reinald yang sedari tadi memalingkan pandangannya ke arah pintu, “Karena kamu lucu juga manis aku akan memanggilmu Tink, bagaimana menurutmu?”

Mata mereka bertemu sesaat, Sinta segera memejam mejamkan matanya berharap ia tidak bermimpi. “Kalau itu maumu, tak apalah lagian Tinkerbell juga bagus.” Kataku.

Reinald mengangguk lega, “Kamu mau pulang, Tink?” tanyanya

Sinta mengerutkan kening.

Kenapa ia jadi begini? Kata Sinta dalam hati.

“Belum, aku masih ada ekstrakulikuler jadi kayaknya masih nanti.”

“Ooo…..begitu yaudah aku juga ada ekstrakulikuler nih. Mau bareng?”

DEG!

“emmmm….emmm…..” Sinta ragu dengan ajakan Reinald yang tak biasanya terjadi.

“Yaudah kalo gakmau aku pergi dulu ya.” Seakan Reinald mengetahui apa yang Sinta pikirkan.

Saat Reinald keluar dari kelasnya, Sinta mengikutinya dari belakang lalu menuju ke ruang seni musik.

“Pertemuan kali ini sampai disini saja.” Ucap Pak Taka selaku guru seni musik

“Terimakasih Pak” seru seluruh siswa.

Sinta melangkah sendiri ke parkiran, karna Dira masih mengikuti latihan bulu tangkis karena sebentar lagi akan diadakan lomba jadi Dira mati-matian berusaha keras untuk dapat mendali setidaknya perunggu. Ya, Dira adalah orang yang penuh semangat.

Saat melewati parkiran motor, Sinta tak sengaja bertemu dengan Reinald yang sedang meneguk air mineral. Tampak keringatnya yang mengucur dari pelipis. Sadar ada yang memperhatikan Reinald segera memalingkan wajah tepat kearah Sinta. Sinta hanya terdiam. Sedetik kemudian, Sinta tersenyum serta melafalkan kata “Aku pulang duluan ya”

“Apa?” teriak Reinald dari tengah lapangan yang membuat sebagian temannya menengok kearah Sinta.

Sinta hanya bisa menggiggit bibir bawahnya berharap ada sesuatu yang dapat memindahkannya ketempat lain yang lebih tenang. Namun bukannya semakin tenang, Reinald malah berlari kearah Sinta.

“Apa tadi?” ulangnya yang sekarang berada di depan Sinta.

Jarak mereka hanya satu langkah saja, Sinta tak bisa lagi menyembunyikan senyumannya. Ia menarik napas, “Aku pulang duluan” lirihnya.

Reinald tersenyum kemudian menaikkan tangan kanannya ke arah Sinta. Awalnya Sinta tidak yakin kalau Reinald bermaksut agar Sinta menjabat tangannya. Namun saat senyum Reinald mengisyaratkan bahwa dia ingin bersalaman dengannya, Sinta segera menyambut tangan Reinald. Sinta menaikkan tangan Reinald ke kepalannya kemudian ditiru oleh Reinald. Ingin sekali Sinta menghentikan waktu karena ia nyaman dengan keadaan seperti ini. Setelah cukup lama Sinta melepaskan jabat tangannya lalu tersenyum malu begitu juga dengan Reinald yang sekarang sedang menggaruk garuk kepalannya yang sama sekali tidak gatal.

“Yaudah aku pulang ya.” Ulang Sinta masih dengan senyum malunya.

“Hati-hati” begitulah balasan dari Reinald.

Dijalan, Sinta hampir tertabrak karena tak konsentrasi terhadap jalan, ia malah senyum senyum sendiri karena memikirkan kejadian diparkiran tadi.

Malam harinya seperti biasa, Sinta menunggu getaran yang dihasilkan oleh handphonenya. Sebelumnya ia tadi telah menghubungi Dira dan menceritakan kejadian yang ia alami dari hari ini. Seperti yang dipikirkannya, Dira tidak percaya dan terus menerus menanyakan kebenaran dari cerita Sinta, namun Sinta hanya tertawa. Dira yang kesal akhirnya menutup telepon tanpa permisi.

15 menit…..

30 menit…..

Satu jam…..

Sinta terlihat mengetuk ngetukkan jemarinya diatas meja. Sudah jam delapan malam namun tak ada pesan yang masuk ke handphonenya. Karena ia tak suka menunggu akhirnya ia mengirim pesan kepada Reinald.

Reinald lagi sibuk ya? Sinta kemudian menekan tombol kirim.

3 menit….

5 menit….

Sinta sudah putus asa, baru saja ia akan menarik selimutnya tapi tiba-tiba handphonenya bergetar. Sinta tersenyum kemudian memejamkan mata sementara tangan kanannya menutup layar handphonenya. Ia berhitung satu sampai tiga didalam hatinya. Pada saat hitungan ke tiga ia langsung membuka mata serta membuka pesan yang muncul di layar handphonenya. Benar saja itu Reinald.

Banget :p. Begitulah balasan dari Reinald. Singkat.

Namun bagi Sinta walaupun sesingkat apa yang Reinald balas tetap saja membuatnya tersenyum.

Ciye….anak sibuk :p sibuk ngapelin Sari kan:p. Jawab Sinta yang sedikit ragu mengetikkan nama itu namun Sinta ingin mengetahui balasan dari Reinald.

Tak usah menunggu lama, handphonenya bergetar mengisyaratkan ada pesan masuk.

Seketika raut wajah Sinta yang tadinya tersenyum kini luntur, tangan kanannya menutup mulutnya, air matanya mulai jatuh tepat dilayar handphonenya. Dia mengutuk dirinya sendiri karena tadi membahas mengenai Sari ke Reinald.

 Tink, aku sepertinya mulai menyukai Sari :3.

Sinta langsung menyingkirkan handphonenya jauh-jauh, ia tak mau melihat pesan singkat yang sangat membuat hatinya sakit kali ini. Sinta meraih boneka teddy bearnya kemudian memeluknya erat, seakan ia ingin bonekanya mengerti apa yang ia rasakan sekarang.

***

            “Sudah…..sudah jangan terlalu dipikirkan aku kan sudah pernah bilang jangan mempercayai orang yang belum lama kita kenal toh kita tak tau sifat aslinya dia gimana kan?” Dira berusaha mengembalikan semangat sahabatnya yang kini sedang menangis dibawah meja tempat duduknya.

Sinta tetap saja terisak, ia tak habis pikir dengan perlakuan Reinald yang ternyata hanya menerbangkannya lalu menghempaskannya.

Namun ia juga berpikir memang orang yang jatuh cinta selalu terbelenggu dengan ilusi yang ia buat. Orang yang jatuh cinta tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata dan mana hasil ilusi yang ia ciptakan. Kejadian dan hal-hal kecil cukup membuat orang tersebut senang. Berprasangka bahwa kabar itu baik untuknya, padahal saat ia sadar bahwa itu adalah ilusi yang ia buat, hatinya akan pecah berkeping-keping lalu menuduh seseorang itu memainkan perasaannya. Nah, padahal siapa yang mempermainkan perasaannya?

Pada saat itu juga Sinta beranjak dari tempatnya, ia menghapus air matanya dengan yakin, ia tersenyum kearah Dira, meskipun dihatinya masih perih.

“Aku kuat” ucap Sinta setengah serak.

Dira mengangguk lalu membalas senyuman Sinta.

Kelas sudah sepi sejak setengah jam yang lalu, namun Sinta masih saja duduk dibangkunya seraya menulis luapan perasaannya dibuku diarynya. Dira telah pergi beberapa menit yang lalu awalnya Dira tak mau membiarkan sahabatnya sendirian namun Sinta mengancam tak akan mau berteman lagi dengannya kalau Dira tak berangkat latihan dengan itu terpaksa Dira meninggalkan Sinta sendirian lagi.

Setelah menghabiskan beberapa lembar buku diarynya, Sinta segera pergi dari kelasnya yang terlihat ngeri. Tanpa diduga saat ia sedang berjalan ke parkiran langkahnya terhenti lantaran Reinald sudah ada didepannya seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

Sinta menatap matanya, ia menggiggit bibir bawahnya berharap air matanya tak jatuh.

“Minggir” bentak Sinta sembari lewat di sisi kanan Reinald.

Namun Reinald tetap menghalangi jalannya dengan bergeser kearah kanannya, yang menjadikan Sinta menabrak tubuhnya.

“Apasih yang kamu mau? Aku dah capek. Aku mau pulang” kata Sinta yang masih menyembunyikan wajahnya yang kini mulai basah.

“Tink.” lirih Reinald. “Kenapa kamu daritadi nyuekin aku? Apa aku punya salah sama kamu?” lanjut Reinald.

Benar saja memang daritadi pagi hingga sore ini Sinta tak pernah membalas senyum Reinald, tak pernah membalas sapaan dari Reinald,tak pernah memandang wajah Reinald saat mereka berpapasan. Semua itu dilakukan semata-mata karna Sinta ingin menjauhi Reinald.

“Jawab Tink!” suara Reinald mulai meninggi.

Plis, jangan buat aku berharap sama kamu lagi. Lirih Sinta dengan suara yang sangat pelan. Ya, Suara hatinya.

Sinta menghapus air matanya, “Aku sedang ada masalah jadi kumohon jangan membebaniku lagi.”

Reinald memandangi Sinta yang kini juga memandanginya. “Yasudah kalo begitu, yang penting bukan karnaku kan?” balas Reinald dengan nada bercanda.

Sinta menggeleng. Lalu segera pergi dari hadapan Reinald. Ia menangis kembali.

***

            Beberapa hari kemudian Dira tiba-tiba memeluk Sinta seraya memperlihatkan mendali perak yang ia dapatkan dari lomba kemarin.

“Selamat ya” ucap Sinta dengan mempererat pelukannya.

“Makasih ta.” Balas Dira kemudian melepaskan pelukkannya. “Bagaimana dengan Reinald? Selama empat hari ini kulihat kau masih berbincang dengannya.”

Sinta tersenyum, “Aku tak bisa menjauhinya.” Ucap Sinta yang membuat Dira terdiam. Ia merasa khawatir dengan keadaan Sinta sekarang.

            “Sudahlah ini urusanku, aku akan menyelesaikannya.” Lanjut Sinta seakan bisa menebak jalan pikiran sahabatnya itu.

 *****

Semakin lama, Sinta bisa melupakan Reinald. Cinta sesaatnya.

Tinkerbell memang selalu ada disamping Peter Pan saat Peter Pan membutuhkannya. Tinkerbell yang senantiasa menemaninya tak pernah mengharapkan balasan apapun untuk apa yang ia lakukan. Tapi, Peter Pan malah menaruh harapan kepada Wendy. Walaupun Tinkerbell tau ia tetap setia menemani Peter Pan…….hingga sekarang.

Untukmu yang sekarang bersamanya

Jujur aku menyimpan rasa

Yang mungkin sudah terlambat

Untuk kuungkapkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s