Oase :’)

Hening seketika disaat kulihat kau mengacuhkanku dan menganggapku sebagai hiasan yang sedang berjalan di depanmu. Entah apa maksudmu tapi aku bisa menangkap dengan jelas jika kamu sedang memberiku sebuah isyarat agar aku tak lagi memikirkanmu. Ya, terkadang aku selalu berlebihan menanggapi segala tingkahmu yang mungkin aneh dan ketidaksengajaan saja. Bodoh sekali aku tak dapat membedakan mana ilusiku, mana dunia nyata.

Disaat aku terbelenggu atas kebingungan yang seakan merenggut semua perhatianku, aku menyempatkan diriku untuk menoleh ke arahnya lagi, berharap sikapnya yang tadi hanya kebetulan saja, namun harapanku terkikis bak karang yang selalu dihantam ombak, hanyut begitu saja saat kulihat dirinya malah beranjak pergi setelah sempat mata kami bertemu. Rasa sakit yang belum terobati kini tersayat kembali, membuka luka yang sudah perlahan memudar menjadi semakin dalam. Memang, aku tau cinta yang hanya diam-diam selalu mengamati harus mempunyai mental kuat jika diacuhkan. Karna apa? Karna cinta yang mengaggumi dari jauh itu tak mampu berterus terang akan perasaan aslinya. Mereka belum siap untuk menerima keputusan yang tak mereka inginkan. Sebuah penolakan, ya itulah penyebab utamanya.

Angin menerpaku, membuatku memejamkan mata karena ingin mengetahui seberapa dalam aku terluka, menikmati perasaan yang sudah tak bisa kukendalikan. Kutarik lengan sahabatku, tampak ia heran dengan perubahan perilakuku yang semula selalu tersenyum kini tertunduk lesu menatap bumi. Setelah menemukan tempat yang kurasa nyaman, akhirnya ku curahkan semuanya. Air mata, ya hanya itulalah benda yang kupunya. Benda yang selalu membuatku lebih lega untuk mengutarakan semuanya. Seolah sahabatku mengerti apa yang kurasakan dia menepuk nepuk pundakku, mungkin sudah berpuluh-puluh kali dia melakukannya. Aku tau dia bingung karna kondisiku sedang tidak ingin diajak bicara. Disela-sela tangisanku, ia selalu memberikan nasihat.

“Kamu gak salah, jangan terlalu sering menyalahkan dirimu sendiri!”

Mungkin kalimat itu sederhana, akan tetapi aku mengerti maksut dari kandungan yang terselubung di kalimat itu. Mungkin jika dihitung, ribuan kali aku selalu menyalahkan diriku sendiri, entah tentang kejadian apapun. Dan kali ini, aku memotivasi diriku sendiri, beranjak dengan mengusap pipiku, menghapus luapan perasaan yang sedari tadi tak dapat kubendung.

Waktu berlalu, sahabatku sedang sibuk dengan urusannya. Sedangkan aku? Sendiri, disaat aku membutuhkan tempat curahan semuanya seprti hilang ditelan bumi. Tak ada yang tampak, hanya orang-orang yang saling menyapaku, terpaksa aku harus tersenyum, walaupun sedikit aneh. Aku memasuki sebuah ruangan. Sepi, ya situasi inilah yang kuharapkan, seperti menemukan air di padang pasir, aku menemukan selembar kertas beserta sebuah pena. Mungkin sangat tak berguna, akan tetapi bagiku, itu satu satunya media curahanku disaat aku membutuhkan seorang teman. Kata demi kata tersusun rapi di setiap barisan. Hey…..aku dapat menahan perasaanku saat aku mencurahkan semuanya di selembar kertas kusam ini. Sampai akhirnya, disaat aku terbuai oleh hasil tulisan jemariku serta bantuan dari inspirasiku tak terasa ada yang membuka pintu. Suara langkahan yang terdengar antara sepatu beserta lantai membuat irama yang susah kudengar. Tiba tiba dibelakangku terdengar suara yang tak asing bagiku.

“Hey, kau kenapa?” begitulah ucapnya

Aku menengok ke belakang memastikan perkiraanku salah, ternyata benar, dia Danny kakak kelas sekaligus teman dekat seseorang yang tadi sempat membuatku seperti ini. Kurasa aku masih ingin sendiri, kuminta dirinya meninggalkanku. Bukannya mengusir tapi aku butuh ketenangan.

“Kamu kenapa sih?” ucapnya heran memperhatikan sifat janggalku.

Seolah kata itu kunci bendungan yang sedari tadi kutahan. Dan akhirnya air bah tersebut meluncur bebas, membanjiri apa yang di terjangnya. Aku menutup mukaku. Malu, ya, kenapa aku selemah ini? Rasanya aku ingin berlari dan berteriak sekeras kerasnya. Cukup lama aku berada diposisi ini. Sampai akhirnya aku berani mengangkat mukaku, dia masih berada di depanku, memberikan nasehat persis apa yang dilakukan sahabatku sebelumnya. Beberapa kali aku menarik nafas panjang untuk menetralkan pernafasanku. Lega. itulah kata yang sekarang bersarang dipikiranku. Aku telah mencurahkan semuanya, walaupun masih ada sedikit.

Dirumah aku meraih laptopku dan mencurahkan semuanya di blog pribadiku, menulis kata demi kata yang menghasilkan suatu peristiwa. Sampai tiba-tiba mataku membulat, aku tersenyum masam. Harapan itu muncul.

“Jadi,  dapat kusimpulkan sesungguhnya dibalik sifatmu yang acuh terhadapku, sebenarnya kamu mempunyai perasaan peduli.”

Dan perlu diingat bahwa keajaiban itu penuh misteri seperti oase yang tiba tiba muncul di tengah keringnya gurun pasir. walaupun keajaiban itu kecil, setidaknya membuat kita tersenyum🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s