26 Oktober 2012

Matahari telah menampakan sinarnya, gema takbir serta dinginnya pagi ini menambah semangatku. Pagi ini adalah hari suci umat muslim, hari dimana diperingatinya peristiwa kurban, yaitu ketika nabi Ibrahim (Abraham), yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, namun karna keikhlasan nabi Ibrahim yang mau mengorbankan putranya Ismail, Allah kemudian menggantikannya dengan domba.

Setelah aku mempersiapkan diri, kupatut sekali lagi wajahku di cermin. Sembab, sial kenapa mataku jadi seperti ini, untung tak terlalu parah batinku. Cukup tadi malam aku mengingat tentangnya. Derai air mataku selalu disebabkan olehnya. Air mata yang selalu menemaniku disaat aku mengingat tentangnya. Aku hanya ingin tersenyum agar aku lupa caranya merana dan agar aku mati rasa akan luka.  Sudahlah itu tak penting.

Dijalan, begitu banyak orang-0rang muslim yang saling mengumbar senyum, seakan masalah yang berada di bumi musnah begitu saja. Lihatlah begitu ramah mereka saat bertemu dengan orang lain, berjabat tangan serta bergurau riang. Begitu juga dengan langit, tampak biru dan putihnya awan menjadi saksi bisu tentang kami, umat muslim yang akan menunaikan perintah-Nya. Disela sela perjalanan, mataku tak henti hentinya melihat puluhan orang yang berbondong bondong, walaupun aku tak mengenali mereka, tapi aku selalu memberikan senyumanku kepada mereka, Aku hanya tau satu teori. Mereka sepertiku, orang muslim.

Saat sampai di alun alun kota, begitu menajubkan, puluhan bahkan ratusan orang memadati alun alun, aku dan ibuku segera menempatkan diri. Gema takbir tak henti hentinya diserukan, balon balon mewarnai lautan manusia yang telah memadati alun alun. Aku lihat disebelah kananku, seorang wanita  baya yang telah renta dan sangat lemah sedang menyusun lembar demi lembar koran untuk tempat beribadahnya nanti, setelah beliau selesai, digelarnya sajadah merah bercorak masjid. Sadar, daritadi aku melihatnya, beliau memberikan seulas senyum ikhlas, segera aku membalasnya, sungguh sangat malu jika ada remaja ataupun orang yang masih sehat tak menyempatkan dirinya untuk menyembah Allah. Lihatlah, wanita baya ini, tak peduli seberapa banyak umurnya, namun ia tetap menyempatkan waktu berharganya. Mungkin tak hanya beliau, masih banyak orang yang tak bisa berjalanpun ikut meramaikan takbir. Sungguh patut ku jadikan pembelajaran.

Shalat Ied telah selesai, begitu juga segala doa yang kupanjatkan, harapanku  semoga di dengar oleh-Nya. Sekarang tinggal menunggu sang dahwah memberikan ceramahnya mengenai Hari nan suci ini. Waktu menunjukan pukul 7 lebih 20 menit. Pendakwah telah turun dari panggung kecil yang telah disediakan, diikuti langkah orang-orang musim yang akan menyembelih hewan qurban ke masing-masing masjid. Aku beserta ibuku, segera beranjak dari tempat kami, tak lupa aku memberikan sapaan kepada wanita baya tadi. Aku sengaja berjalan sangat cepat, aku pamit kepada ibuku, tak tau mengapa namun langkah ini semakin menyeretku kedepan. Di depan agak jauh dari kerumunan orang yang masih membereskan alat alat ibadahnya, aku melihat kota mati. Bukan mati karena tak berpenghuni melainkan kota mati yang seluruh warganya tumpah di alun alun kota, sungguh pemandangan yang sangat langka. Beberapa menit kemudian langkahan para warga yang telah selesai menunaikan kewajibannya, memadati jalan jalan, seperti yang kukatakan tadi, banyak orang yang memakai kursi roda, tongkat, ataupun digendong, mewarnai semarak begitu setianya orang muslim. Tak terlihat rasa kesakitan di wajah mereka, hanya tarikan dikedua sudut bibirnya yang menandakan kegembiraan. Ku teruskan perjalananku, langkahan kakiku terhenti disaat rokku di tarik oleh seseorang, aku segera menoleh, terlihat tangan mungil yang memegang rok hitamku, seorang anak perempuan kecil yang kira-kira usianya 6 tahun dengan pakaiannya yang compang camping, tidak kotor akan tetapi lusuh, sepertinya hanya itu pakaian yang ia miliki, tapi mukanya tampak senang walaupun sebenarnya banyak rintangan yang dijalani si anak ini. Aku berjongkok agar aku bisa memandang muka polosnya.

“Kak” diulurkannya gelas plastik yang berisi recehan dan lembaran uang. Aku segera tau apa yang dilakukan anak itu, kukeluarkan lembaran uang yang kumiliki, tampak anak itu begitu senang, dipamerkannya deretan gigi susu yang masih bersih dan rapi. Kuusap bagian atas rambutnya yang tergerai agak panjang. Setelah itu ia berlari ke wanita paruh baya yang juga sedang meminta belas kasian dari orang-orang sekitarnya. Anak kecil itu membisikan sesuatu ke telinga wanita baya tersebut yang kuyakini itu ibunya. Tampak ibunya melambaikan tangan kanannya kearahku. Tunggu dulu! Sepertinya aku mengetahui siapa wanita tersebut, ia adalah wanita baya yang tadi berada di sampingku sewaktu shalat. Dan hey….dia mengganti pakaian yang tadi ia kenakan pada waktu shalat, yang semula bersih sekarang sedikit lusuh. Mungkin ia malu jika ia menggunakan pakaian lusuhnya saat menghadap Allah. Sadar, ia masih melihatku segeraku balas dengan anggukan serta senyuman. Setelah beberapa lama kuamati kedua orang itu, aku segera pulang. Sepertinya banyak pelajaran yang kuambil hari ini.

One thought on “26 Oktober 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s