Simphony nada cinta :’)

Nuzulul Qur’an. Ya, acara kerohanian yang diadakan sekolahku pada hari ini. Semua orang riuh, entah apa yang dilakukan mereka, bukannya memperhatikan mereka malah sibuk dengan urusan tersendiri. Begitu juga denganku, sering kali aku menguap karna bosan, terlebih disaat aku melihat disekelilingku, semua murid setengah tersadar karna mereka kebanyakan tertidur dengan posisi yang mungkin nyaman bagi mereka. Suasana yang panas dan membuatku gerah menyebabkanku tak tahan, aku beranjak dan aku pergi ke belakang sekedar mencari kebebasan, saat berjalan mataku masih menjelajahi detail sekolahan baruku ini, dan sampai akhirnya mataku terpaku oleh seseorang yang memakai jaket hitam dengan gagahnya berdiri di sudut kananku. Mukanya yang terkesan sedikit “sangar” namun terdapat unsur yang membuatku ingin melihatnya terus menerus. Rasa kantuk yang sedari tadi menyerangku seakan pergi jauh entah kemana. Dirinya, mampu membuatku seperti patung yang tak dapat berbuat apa-apa, mengedipkan mata saja aku tak tau caranya bagaimana ketika dia mulai berjalan didepanku. Keringatku mengucur dengan deras, entah mengapa aku tak bisa bernafas, mataku membulat disaat ia menundukan kepalanya memberi kode yang santun kepada adik kelas. Ya, dia kakak kelasku, dan dia juga yang sekarang menarik perhatianku. Kulihat detail tubuhnya, mulai dari rambut, baju, celana, sampai sepatu. Dia memakai sepatu bermerk Nike, ya Nike, sepatu yang sama denganku, walaupun ini cuma kebetulan dan kebetulan ini juga bukan berarti peluang untukku, namun aku sangat senang menyadarinya.

“Sopan, keren, berwibawa.” tuturku tak sengaja disaat dia lenyap diantara para siswa.

Waktu berjalan sangat cepat, aku telah kembali ke bangsal, jujur aku tak tau apa materi yang dibahas di Nuzulul Qur’an tadi. Yang aku tau, aku menemukan seseorang yang mampu membuatku seperti ini, membuatku salah tingkah dan hanya satu pertanyaan yang terlintas di pikiranku, “Siapakah namanya?”

Mulai dari kejadian kemarin aku mulai mencari identitasnya. Aku awali di situs jejaring twitter. Nihil! Aku tak mempunyai clue untuk mengetahui lebih dalam tentangnya. Ah sial! Gerutuku dalam hati.  Keesokan harinya, aku masih memikirkan bagaimana aku bisa mengetahui namanya. Bukannya memperhatikan pelajaran namun aku malah berdiskusi dengan pikiranku sendiri.

“Hey, Bel, kamu nglamunin apa sih? Daritadi aku liat kamu merenung terus, ada masalah? Cerita sini.” ucap teman sebangku ku Sinta.

“Hah?” kagetku, “Em……gimana ya?” lanjutku menimbang nimbang. Tampak kerutan dikening Sinta yang menandakan dia ingin mengetahui kalimat selanjutnya yang tertutur dari mulutku, “Oke, aku menyerah, jangan menatapku seperti itu! Jadi, begini Sin, aku menyukai, eh bukan bukan aku ngefans sama kakak kelas, dan dia……”

“Hah? Siapa? Cepetan ngomong!” ucapanku terpotong oleh kekepoan temanku ini.

“Sebentar dengerin aku bicara dulu.” cegahku, “Nah, masalahnya aku tak tau namanya.”

“hahahahaha…….” ledakan tawa mulai terdengar dari Sinta, “Kamu, gak tau namanya? Haha, tenang tenang aku sebagai temanmu akan membantumu.” ucapnya mulai berlagak sok.

“Teeeet…….tet……teet” Bel istirahat mulai terdengar. Aku dan Sinta segera beranjak dan turun tangga untuk ke kantin, kelas kami berada dilantai satu jadi tak heran jika kami terkadang terlambat masuk. Di kantin kami mulai memilih milih menu yang cocok untuk hari ini, saat tiba-tiba tubuhku tak bergerak lagi dan itu disebabkan oleh dirinya yang kini berada di sampingku, oh Tuhan dapatkah kau hentikan waktu ini? Aku memberi isyarat kepada Sinta yang sedang sibuk mengantri di depanku, sepertinya dia tak mungkin menyadari isyaratku, batinku. Akhirnya aku menyerah aku berniat untuk berbalik sampai akhirnya mataku terkunci di satu titik, kutemukan jawaban yang sangat ku idam idamkan dari kemarin, jawaban yang singkat namun sangat bermakna untukku, terlebih jawaban tersebut mampu membuatku kini tersenyum karna menahan perasaan senang yang seakan ingin meluap keluar. Sebuah kain pendek yang mencetakkan namanya tergambar rapi didada sebelah kirinya, Namanya “Andito Anggara”. Tak mau ia menyadari sikapku akhirnya aku segera duduk dan menunggu Sinta kembali dari luapan antrian murid murid yang sedang berdesak desakan, sampai akhirnya Sinta keluar dengan muka muram.

“Sial, banyak banget sih anak anak yang beli” gerutunya. Jujur. Aku tak begitu memperdulikan omelan Sinta, yang aku pikirkan hanya harta karun yang aku temukan tadi dengan sangat mudahnya. Mataku masih terpaku kepadanya.

“Sin” ucapku dengan senyuman semanis mungkin. “Aku telah menemukan jawabannya yang sedari tadi mengusik pikiranku”

****

Bel sekolah tanda berakhirnya kami menuntut ilmu berbunyi, aku segera pulang karna ada tugas yang ingin aku kerjakan. Bukan tugas dari sekolah melainkan tugas yang kini bersarang di dalam pikiranku. Ribuan pertanyaan berputar putar dan menuntutku untuk menjawabnya. Sesampainya di rumah, kuraih laptop unguku dan kubuka situs google dan akhirnya aku mulai mengetikan namanya di google, ya ini sangat gila, dan aku mengetahuinya, namun aku tak dapat mencegah rasa ingin tauku, sampai akhirnya terpampanglah hasil ketikan jailku tadi, namanya terpampang mulai dari twitter, blog, hello, dan semua yang berbau tentang ketikanku tadi. Mataku langsung terarah ke twitternya, aku mencoba memencet tombol kiri yang berada di mouse yang sedari tadi di genggamanku.

Aku menelan ludah, leherku serasa di sakit, mataku memerah, senyuman yang sedari tadi terlukis di bibirku, perlahan hilang diikuti bulir bulir air mata yang tergerai bebas di wajahku. Kututup mulutku menggunakan tangan kiriku, sedangkan tangan kananku masih tak mau berhenti menggenggam erat boneka yang sedari tadi kupeluk. Dia telah mempunyai tambatan hati. Ya, itulah yang menyebabkan aku merasa kacau. Aku butuh pundak seseorang untuk melepaskan kenyataan yang tadi sempat aku pikirkan namun terhapus disaat aku terlalu senang bermain main dengan anganku. Angan yang sedari tadi kubuat dan tak mungkin menjadi kenyataan. Sungguh aku ingin memutar waktu untuk tidak bertemu dengannya waktu itu dan aku ingin dia tak merampas perhatianku. Kacau. Ya itulah keadaanku sekarang, kekacauan yang disebabkan olehnya. Aku tau ini bukan kesalahannya, ini kesalahanku karna aku terlalu mendalaminya. Seharusnya aku bisa berfikir seorang pengaggum rahasia tak mungkin mengharapkan perasaannya terbalaskan oleh orang yang ditujunya. Selagi kita selalu diam dan hanya mampu memperhatikannya dari kejauhan. Aku menyerah, kututup kembali laptopku. Pandanganku kosong tak ada makna, air mataku telah berhenti, sepertinya inilah akhir dimana aku harus melepaskannya dan aku harus menyadari dia telah dimiliki oleh orang lain.

Seiring berjalannya waktu dan luka itu semakin hari semakin pudar karena orang orang yang selalu membuatku tersenyum seolah memberi harapan agar aku  melupakan kejadian terkutuk itu. Sampai akhirnya aku menemukan sesorang yang entah darimana dia datang dengan sejuta senyum yang membuatku bertanya tanya. Dia yang memiliki senyuman yang kurasa aku mulai menyukai senyumannya itu. Aku tak tau mengapa aku begitu terhanyut saat berada dengannya, dia yang kini mampu membuat perasaanku yang pertamanya risau, sedih, bimbang menjadi bersemangat kembali. Sepertinya dia mempunyai semacam mantra yang entah mengapa aku selalu terhipnotis kedalam kata kata lembutnya. Berawal dari perbincangan yang basa basi sampai akhirnya berubah serius. Dirinya menyatakan perasaannya kepadaku! Shock, ya itulah yang terjadi saat aku membaca kata kata yang terpampang di layar handphoneku. Apakah tak terlalu cepat? batinku. Namun apa salahnya? Toh aku juga sudah merasa nyaman dengannya. Akhirnya aku mengiyakan pernyataannya. Dan kini aku telah membuka lembaran yang ku harap hanya berisikan aku dan dirinya.

Semua telah tau tentang statusku yang kini bukan sendiri lagi. Terlebih sahabatku, awalnya mereka ragu akan jawabanku namun aku yakin aku dapat membuktikan pilihanku. Disaat seperti ini, “dirinya” yang dulu sempat mengisi kekosongan hatiku muncul kembali, seolah memberiku sebuah harapan yang tak tau apa yang harus aku lakukan. Mengapa disaat aku menemukan penggantinya, dirinya datang kembali dan seolah olah memaksaku kembali ke kejadian yang kini telah tertimbun dalam di dasar hati ini? Tatapannya dan gaya bicaranya kini berbeda! Apa salahnya aku berpaling? Aku tak mengerti akan tatapan yang selalu engkau berikan disaat kita saling bertatapan, perhatian yang mungkin secara kasat mata kau berikan, namun aku dapat menangkapnya dengan jelas. Apakah ini hanya perasaan ke GR an ku atau mungkin kamu memang melakukannya. Tapi untuk apa? Untuk menggoreskan luka yang lebih dalam lagi? Apa tak cukup bagimu aku kehabisan air mata? Air mata yang terbuang sia-sia karna mu? Apa ini yang kamu lakukan kepada setiap penggemarmu? Mengapa disaat aku telah menemukan kebahagiaanku, kamu seolah datang dan merusaknya? Kau bahagia dengannya dan biarlah aku bahagia dengan orang yang kini ku sanding! Kuharap kau mengerti, walaupun jujur separuh hati ini memang masih menjadi milikmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s