Secret Admirer #2

Setiap bertemu denganku dia lebih sering diam, dia hanya berbicara dengan orang-orang tertentu yang menurutnya menyenangkan. Kali ini, aku beranikan diri melewati depan kelasnya. Aku menyusuri koridor-koridor di sekolah, sampai akhirnya aku menemukan sebuah pintu yang bertuliskan “Ruang Seni”. Ya, dia sedang berada dalam ruangan tersebut. Tampak pintu itu sedikit membuka, tak mau menunggu lama, aku menengok kedalam, dan membiarkan mata ini meelusuri setiap sudut ruangan, sampai akhirnya tatapanku tertuju kepadanya. Lelaki yang selama ini telah menarik perhatianku, Lelaki yang menurutku mempunyai senyuman yang indah, dan yang lebih penting dia adalah inspirasi menulisku. Ya, aku memang menyukai bidang sastra apalagi dalam hal menulis. Menuliskan diskripsi tentangnya mungkin akan menghabiskan berlembar lembar kertas, dan juga menghabiskan tinta. namun, bagiku itu tak masalah asalkan semua curahanku akan keluar.

Tatapanku masih tertuju kepada satu titik, Senyumanya. Bagaimana bisa dia menghipnotisku hingga aku melupakan dunia nyata dan berada di dunianya yang seakan menjerat seluruh jiwaku? Mungkin hanya dialah yang mengetahui semuanya. Tiba-tiba sepasang mata yang sedari tadi kuawasi dari jauh menoleh kearahku dan membuatku langsung menghindar dari balik pintu tersebut. Dia menyadariku! Pikirku dalam hati. Ku coba untuk kembali mengintip dicelah pintu yang sedari tadi menjadi jalan utamaku melihatnya. Dia masih sama, memperhatikan pelajaran, dan menulis apa yang dikatakan oleh guru. Jadi, apa yang tadi ia lihat? Apakah diriku, atau sesuatu yang lain? Namun, aku masih ingat tatapannya tertuju kepadaku. Ah….tidak mungkin dia menoleh kearahku, menatapku ataupun mengagapku aja dia tak pernah melakukannya. Sebelum aku beranjak dari posisiku, ku lihat sekilas lagi dirinya yang terlihat sangat antusias mengikuti pelajaran, dan itu membuat nilai plus untuknya.

Di kantin. Aku sedang bercerita tentang kejadian tadi dengan sahabat baikku, Salsa. Ia sangat nyaman jika di ajak berbicara. Saat aku sedang membicarakan kejadian tadi secara terperinci, tiba-tiba sosok yang dibicarakan datang dengan ekspresi yang biasa saja, menurutku dia sedang ada masalah, tak biasanya ia bermuka muram seperti itu, namun sikapnya berbeda dengan apa yang kulihat tadi. Dan, kalian tau? Aku disini adalah pengagum rahasia dan hanya mampu mempelajari tentangnya dalam jarak jauh. Ironis. Ya, memang, namun apalagi yang harus kuperbuat? Mengatakan semua perasaanku? Konyol sekali, aku masih punya perasaan malu dan belum siap menanggapi reaksinya.

Dia duduk tepat di depanku, seolah semua tubuhku terkunci, seolah ada yang mengikat tubuhku sehingga aku tak dapat berbuat apa-apa. Mungkin ini terlalu berlebihan, namun inilah yang terjadi. Mata kami sempat bertemu beberapa saat, saling berpandangan, tidak peduli ada orang yang selalu mondar mandir dihadapan kami. Matanya, begitu teduh dan hangat. Aku berusaha mengirimkan kata-kata yang berada dipikiranku. Mungkin kedengaran sangat bodoh tapi ada seseorang yang mengatakan telepati itu mungkin terjadi diantara seseorang yang sedang bertatapan. Tapi, disaat aku ingin mengutarakannya, tiba-tiba tatapannya telah berubah, yang tadi melihatku sekarang melihat ke sosok wanita yang sepantarannya, dan melukiskan senyum yang indah seraya berjalan kearahnya. Ekspresi yang kulihat sangat datar tadi, berubah menjadi ceria, menjadi penuh semangat, seakan ia menemukan sumber energinya yang sedari tadi menghilang. Wanita itu duduk tepat di depannya. Mengakibatkan aku kesusahan melihat ekspresi lelaki yang sedari tadi kuperhatikan. Tiba-tiba terdengar suara tawa yang sangat lepas, aku segera mencari sumber suara yang tak asing kudengar itu. Dan benar, suara itu tercipta darinya dan tak beberapa lama suara dengusan kesal terdengar dari wanita yang sekarang memunggungiku. Aku tak tau apa yang dibicarakan mereka, yang kutau dirinya sangat menikmati pembicaraan itu. Seakan Salsa mengetahui posisiku yang sedang terhimpit, ia kemudian memintaku untuk meninggalkan kantin. Disaat aku dan Salsa beranjak tiba-tiba salah seorang teman wanita tersebut berteriak dengan lantang.

“Ada yang mau jadian nih”

Sontak, tubuhku langsung berbelok, diikuti perasaan takut akan apa yang ku bayangkan tadi.

“Maukah kau menjadi kekasihku?”

Hah? Lelaki itu! Lelaki yang selama ini aku sukai dan berada di depanku menyatakan perasaannya KEPADAKU? Hah? Apakah ini mimpi? Apakah ini nyata? Jika ini mimpi jangan pernah bangunkan aku disaat seperti ini.

Kaget. Ya, itulah yang aku rasakan, Jantungku seakan berhenti berdetak dan tak ada tenaga untukku berbicara, aku masih menahan nafas, sampai seketika Salsa menyenggol bahuku, tiba-tiba semua hilang. Anganku terlalu tinggi, lelaki itu sama sekali tak menyatakan perasaannya kepadaku, melainkan dia hanya sedang bergurau dengan teman-temannya. Air mataku tumpah, aku segera berlari meninggalkan tempat terkutuk ini. Berlari ke suatu tempat yang mungkin bisa membuatku tenang. Aku bodoh! Ya, aku sangat bodoh mengharapkannya! Seakan Tuhan tak membiarkan aku menangis sendirian, dikirimkannya hujan, dan hujan menemaniku disaat aku sedang terpuruk. Salsa yang tampak berlari kearahku dan menyuruhku untuk berteduh, sama sekali tak kuperhatikan. Yang terngiang hanya kejadian memalukan yang terjadi di kantin tadi. Isak tangisku semakin kacau dan diiringi ratusan bahkan ribuan air yang turun dari langit. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara yang membuatku berhenti menangis, suara yang tadi sempat menghitamkan hariku. Dan suara itu miliknya. Lelaki yang menyebabkanku seperti ini. Diberikannya jaket yang tadi dipakainya ke bahuku, mungkin tak ada manfaatnya karena jaket itu basah terkena hujan, namun bagiku jaket itu dapat menghangatkanku. Aku masih bingung apa yang ia lakukan? Apa tak puas ia mempermalukanku tadi? Semua pertanyaanku dibalas dengan sebuah pelukan yang membuatku mati berdiri. Sebuah pelukan yang berlatar belakang hujan, tampak Salsa tersenyum disertai air mata yang mungkin tak terlihat namun aku dapat membaca matanya.

“Apa yang kau lakukan?” ucapku dengan suara desakan yang bertubi tubi menghujam hati ini.

“Tetaplah seperti ini, aku hanya ingin kamu menjawab pertanyaanku tadi. Apakah kau bersedia menjadi kekasihku?” tuturnya, masih dengan posisi memelukku hangat.

“Tapi, kupikr kau hanya bercanda” sangkalku.

“Aku tak perlu mengumbarnya kepada siapapun, yang aku mau hanya perasaan kita yang saling mengetahui. Jadi, jawabanmu?”

Aku anggukkan kepalaku disertai tangan ku yang melingkar ke tubuhnya.Rasanya aku ingin menghentikan waktu ini. Aku tak mau semuanya musnah.

2 thoughts on “Secret Admirer #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s