Ketika hujan membuka kenangan itu

Ditatapnya daritadi pemandangan diluar jendela. Rintikan-rintikan hujan yang membasahi tanah yang tandus menjadi iringan suara yang khas. Langit yang mendung menjadi perwujudan hatinya yang kini kian kelam. Hempasan air yang terbawa angin dan menerpa wajahnya membuat seulas senyum rasa keperihan. Seakan tak memperdulikan dinginnya suasana ini, ia tetap tersenyum walaupun kini wajahnya separuh basah. Dihembuskan lagi nafasnya yang semakin memberat berharap semua masalah yang ada di dalam pikirannya dapat terbang bebas dan jatuh ke tanah seperti air hujan ini yang jatuh dari awan hitam. Disaat ia menutup matanya tampak gelap dan tak ada penerangan. Disitulah ia mulai berfikir, tanpa seseorang yang kini dirindukannya, ia hanyalah seseorang yang tertutup kegelapan.

Tanpa sadar, bergulirlah air mata yang tampak kasat mata karna tertutup oleh air hujan yang berada di wajah dinginnya. Di dalam suasana ini tak ada penghangatan, hanya ada kesakitan dan kedinginan yang selalu singgah di relung hatinya. Seolah selalu memberontak untuk keluar dari keterpurukan! Kini dia mulai berdebat dengan hati kecilnya, mencari kepastian tentang jati dirinya.

Aku tak mengerti mengapa aku bisa selemah ini di matamu?

Apa mungkin, dirimulah penyebab aku bereaksi seperti ini?

Mengubah sifatku yang semula selalu tertawa, menjadi pemurung?

Dan menyeretku ke gerbang yang gelap, sunyi, dan tak ada cinta didalamnya!

Aku hanya ditemani oleh air mata, kamu jahat! Sungguh jahat!

Apakah kamu harus mencabik cabik perasaan ini?

Apakah aku harus meneteskan air mata agar kamu bahagia?

Apakah aku harus kesakitan agar kamu tersenyum?

Segala pertanyaan dan amarah seakan memenuhi pikirannya, tak mampu untuk segera beranjak dari otak. Hujan semakin deras, begitu pula hatinya yang kini kian kacau. Luka yang dulu seharusnya dapat lenyap, sekarang tumbuh lagi membawa kenangan di masalalu. Peristiwa itu, mungkin hanya ibarat angin berlalu, namun baginya itu sebuah kenangan yang harus dibingkai dan di awetkan di dalam memorinya.

Hari itu, dimana mereka bersama menghabiskan waktu senja dengan canda tawa. Di Taman Bunga yang berbau khas karna sebelumnya terguyur hujan, mereka berdua duduk di sebuah bangku dengan saling diam. Hening, tak ada suara yang terlontar di bibir mereka, sesekali mereka saling berpandangan, namun perasaan mereka masih sama, malu untuk memulai. Sampai akhirnya hujan turun. Awalnya mereka sangat panik akan hal tersebut, namun bagi Danny, lelaki yang sedang bersama Cindy itu merupakan sebuah alasan agar dapat menikmati indahnya senja ini. Lelaki itu berusaha mencegah Cindy yang sudah beranjak dari bangku.

“Jangan pergi, duduklah disini” seolah kata-kata sederhana itu dapat mengalihkan otaknya, tanpa menunggu lama, gadis itu duduk manis seperti semula.

“Indah bukan senja kali ini?” ucap Danny memulai pembicaraan

Gadis itu masih terlihat bingung bahkan sesekali ia selalu mengusap usap kedua tangannya, agar dia merasa hangat. Namun tiba tiba, entah darimana seolah ada kehangatan yang menjalar di tubuhnya, seketika itu ia menoleh ke arah Danny yang memegang tangan kakannya dan menggenggamnya erat. Kaget! Ya, itulah perasaan yang dialami Cindy waktu ini. Danny, sosok yang ada di depannya menggenggam tangannya dan memberikan sebuah kehangatan yang mengalahkan segalanya. Tiba-tiba angin berhembus kembali, terpaksa Cindy menarik kembali tangannya, ia tak mau berlama lama di tempat itu. Ia tak mau mengukir lagi kenangan masalalunya. Dia beranjak, tak ada hambatan, satu pertanyaan yang kini singgah di pikirannya.

“Mengapa Danny tak mencegahku?”

Disaat Cindy memikirkan pertanyaannya itu, tiba tiba ada suara yang menyebutkan namanya, walaupun terkalahkan oleh suara hujan, namun Cindy masih bisa mendengarnya jelas, karna itu suara yang ia tunggu tunggu.

“Cindy…” panggilnya lagi

Cindy memberikan senyuman kecil sebelum ia benar benar berbelok ke arah suara tersebut. Bukannya rasa senang yang ia dapat melainkan rasa perih yang sekarang mengrogoti jiwanya. Danny, yang dia sukai sedang berdampingan dengan kekasihnya. Ya, memang Cindy hanyalah teman dan hanya bisa memendam perasaannya yang sudah tumbuh beberapa lama. Dia tak mau disebut pengganggu dalam hubungan seseorang, apalagi seseorang itu adalah sahabat Cindy dan Cindy sudah akrab dengannya sejak mereka masih duduk di bangku SMP.

“Cindy….?” lambaian tangan Danny segera menghapus lamunannya. Setelah ia tersadar sepenuhnya, ia menyadari memang ini nyata, bukan mimpi yang tadi sempat ia bisikan, memang benar Danny sekarang bersama dengan kekasihnya, atau lebih tepatnya sahabatnya, ya itu “Sinta”.

Dipasangnya seulas senyum yang penuh dengan kesakitan. “Loh, Sin kok kamu bisa ada disini?” pertanyaan yang sangat tidak bermutu namun hanya itulah cara yang mungkin dilakukan Cindy untuk menyembunyikan perasaan kacaunya.

“Kebetulan aku sedang jalan jalan disekitas sini, dan tak taunya aku bertemu Danny yang sedang duduk di Taman sendirian. Haha sungguh kebetulan yang menyenangkan bukan?.” tutur Sinta

“Oh” hanya itulah jawaban yang terlontar dari mulut Cindy. Jujur, sebenarnya ia masih tak dapat mengendalikan dirinya. Mungkin puluhan bahkan ratusan kali Cindy selalu memakai topeng pada saat berada di antara mereka berdua.

Hening. Ya, situasi itulah yang kini terjadi di antara mereka, hanya suara gemercik air yang kini sudah merenggang dan awan sepertinya telah selesai meluapkan airnya ke bumi. Situasi ini, di manfaatkan Cindy untuk segera meninggalkan perasaan yang sedari tadi tak bisa ia luapkan. Meluapkan air matanya yang telah berada di tepi, bersiap siap untuk melesat membentuk sebuah danau kecil yang mengalir bebas di pipinya.

“Maaf aku tak dapat menemani kalian, karna aku punya urusan. Sekali lagi selamat bersenang senang.” ucapan terakhirnya memang disengaja menggunakan notasi yang lebih pelan, tanpa menunggu jawaban Cindy bergegas pergi dari tempat terkutuk yang semestinya indah namun serasa kelam disaat ia harus berdebat dengan perasaannya.

Kini, rintikan rintikan hujan menemani langkahnya yang hampa dan sunyi, air matanya sudah tergerai bebas daritadi. Ditengoknya kembali sepasang kekasih yang berada tidak jauh dari tempatnya ia berdiri. Masih sama, mereka bersanda gurau tanpa memperdulikan ada seseorang yang terluka melihat kebahagiaan mereka. Mata Cindy dan mata Danny sempat bertemu beberapa detik, sebelum Danny menolehkan pandangannya ke pepohonan yang berada di dekat Cindy.

Sakit, ya sakit yang dirasakan Cindy sekarang, sakit yang mungkin tak ada obatnya. Bagaimana bisa ia langsung merubah perilakunya yang tadi sempat lembut sekarang ketus dan tak peduli! Ia tak mengerti, Apakah ini yang dilakukan seorang lelaki jika dirinya sudah tidak membutuhkan seorang teman lagi? Mengaggapnya tak ada setelah tambatan hatinya datang? Yaahh…….hanya Danny lah yang tau jawaban itu semua. Yang bisa Cindy ketagui adalah perasaan suka yang selama ini dipendamnya tak mungkin terbalaskan. Maka itulah, hujan selalu membawa kenangan yang buruk untuknya.

One thought on “Ketika hujan membuka kenangan itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s