Boyfriend NO!! Bestfriend YES!!

Buah Pena: Beti Sinta Rosi

Pagi ini aku berniat untuk mengunjungi tempat yang selama ini aku dambakan dambakan, karna kesibukanku sebagai pelajar lebih tepatnya mantan pelajar, mengapa mantan? Karna hari ini adalah hari pengumuman kelulusanku, putih abu-abu yang menemaniku selama 3 tahun telah resmi menjadi kenangan dan kini aku ingin meneruskan impianku untuk menjadi dokter. Aku dan Gina sahabatku berencana mengunjungi kebun teh yang berada di Desa Bibiku.

“Gin, udah belum?” ucapku tak sabar karna sahabatku ini masih sibuk memilah milah baju yang telah memenuhi 1 koper besarnya.

“Sabar dikit kenapa sih Ka?” gerutu Gina

Aku menungguinya di teras rumahku, ku keluarkan handphone yang berada di dalam tasku, terlihat foto wallpaper di ponselku, sepasang mantan kekasih yang sedang tersenyum penuh dengan kegembiraan, tampak kedua pasangan itu saling berangkulan dengan background sunset yang sangat indah. Tak kusangka air mataku jatuh bebas dari kelopak mataku, segera ku hapus dengan tangan kiriku.

“Sika…..” panggil Gina dengan nada pelan namun terdapat rasa khawatir di dalamnya

Aku tersenyum, “udah siap?” ucapku disertai senyuman palsu di raut wajahku

“Kau tak apa?” sepertinya Gina tau apa yang sedang ku rasakan sekarang

“Apaan sih Gin? Orang gak papa juga, ayo nanti keburu siang.” Sangkalku seraya bangkit menuju mobilku yang sedari tadi terpakir di halaman rumahku.

Tak mau menunggu lama Gina mengikuti langkahku. Aku menyetir sendiri sedangkan Gina duduk disampingku. Disepanjang perjalanan kami mengobrol tentang apa pun yang ada di dalam pikiran kami.

2 jam berlalu. Akhirnya kami sampai ditempat Bibiku, aku segera turun dari mobil, tercium khas wangi tanah yang berpadu dengan air hujan, mungkin tadi hujan lebat pikirku.

“Bibi……” teriakku setelah melihat wanita separuh baya yang seraya melihatkan barisan giginya yang tersusun rapi.

Kupeluk beliau untuk melepas kerinduanku, setelah itu ku cium tempurung tangannya diikuti dengan Gina.

“Kamu sekarang udah besar banget Ka, sampai gak inget Bibimu ini.”

“Hehe iya dong Bi, masak Sika kecil terus” cengirku

Setelah merapikan barang barang, segeraku meraih kamera DSLR karna aku tak sabar menikmati hamparan hijau yang selalu ku dambakan.

“Gin ayo” ajakku

Tampak Gina mengangguk pelan, aku berpamitan dengan Bibiku, tak lupa kusuruh Rajif anak Bibiku untuk menunjukkan jalannya, karna sudah lama sekali aku tak berkunjung di desa Bibiku.

Jalan setapak yang masih perawan belum terkena sentuhan aspal maupun konblock, menambah keaslian alam, pohon tinggi dan hamparan sawah terbentang luas di setiap mata melihat, tak mau menghilangkan momen segera ku foto foto semua yang kulihat.

“Jif, masih jauh gak?” seru Gina yang mulai akrab dengan Rajif

“Bentar lagi nih juga sampe” jawab Rajif santai

Mulai terlihat sekelompok orang orang yang membawa daun daun teh yang masih segar, bekerja keras diiringi sang fajar yang menerangi suasana, kabut kabut masih terlihat, kutengok jam yang ada dipergelangan tanganku, jarum menunjukkan pukul 7 pagi. Kututup badanku menggunakan jaket yang kulingkarkan di pinggangku, dingin seakan meresap menembus pori pori kulit.

“Woooooww…..amazing!” teriakku

“Husssh….Sika, malu maluin deh.” tegur Gina

“Hehe….jarang jarang kita lihat pemandangan bagus kayak gini di kota.”

“Iya juga ya?” jawabnya, “Oiya fotoin aku dong pakai kameramu dong.” pintanya. Aku mengangguk pelan.

“Klik…..klik” terdengar jepretan foto Gina dan aku yang bergantian berpose di antara tanaman teh yang subur.

Karna bosan, aku meninggalkan Gina yang masih berfoto ria dengan camera digitalnya, ku jalajahi area perkebunan teh ini. Angin sejuk menerpa wajahku yang mengakibatkan rambutku menari nari bebas, terasa semua beban yang selalu singgah di pikiranku lama lama terkikis.

Aku masih memoto moto pemandangan di sekitarku, sampai akhirnya sebuah suara mengagetkanku, suara yang ku rindukan dan ingin sekali kulupakan, suara itu yang selalu mengusik pikiranku. Aku segera berbalik kearah dimana suara itu berasal, aku ingin meyakinkan bahwa aku salah dengar, namun ternyata aku salah, dia kembali lagi! Dan kini dia ada di depanku dengan senyum yang kurindukan selama ini. Ya, itu Defa, sesorang yang membuat cekungan di hati ini, sebuah cekungan yang sangat dalam, dan sangat sulit untuk dipulihkan.

“Hay Sika.” ucapnya

Aku masih terpaku, tubuhku seolah membeku, lidahku tak mampu membantuku menjawab 2 kata yang terlontar dari mulutnya, jantungku berdegub dengan kecang sama seperti waktu dulu, waktu aku pertama melihatnya. Tuhan….kenapa kau hadirkan dia lagi di dalam hidupku? Apakah aku salah jika melupakannya? Apakah rasa yang dulu sempat hilang kini tumbuh kembali? Tuhan ambil nyawaku sekarang juga, aku tak mau tersakiti olehnya lagi, cukup sakit perbuatannya tempo lalu kepadaku, dia menduakanku dengan sahabatku, apakah itu kurang sakit Tuhan?

“Ka? Kamu gak papa kan?”ucapnya kembali yang membuatku luluh.

Aku mengumpulkan keberanian ku untuk menjawab pertanyaannya.

“Untuk apa kau kembali lagi Fa! Tak cukupkah kau menyakitiku tempo lalu? Tak taukah aku dulu sakit Fa, sakit, apa kamu peduli kepadaku? Tidak kan? Cukup Fa aku tak mau melihatmu lagi!” amarahku meluap, aku tak dapat mengendalikan semuanya, air mataku membanjiri pipiku.

“Ka.” ucapnya seraya menggenggam pergelangan tanganku. “dengarkan aku dulu.” lanjutnya.

Kutepis tangannya, “Dengarkan apa Fa? Mendengarkan kisahmu dengan dirinya? Tak perlu aku tak butuh penjelasanmu, lagian kejadian itu telah berlalu untuk apa dibahas lagi? Aku juga sudah ikhlaskan kamu. Dan asal kamu tau, aku muak bertemu kamu lagi, aku muak mendengar semua kebohonganmu lagi, dan yang paling terpenting aku mohon kau menjauh dariku.” ucapku terisak

Aku berlali meninggalkan Defa, aku tak sanggup melihat mata indahnya itu, aku takut aku jatuh cinta lagi dengannya.

“BRUUK!”

“Aww……” rintihku

“Sika” seru Defa lalu berlari menghampiriku, “Kau tak apa?” ucapnya dengan nada khawatir.

            “Lepaskan, aku tak mau bertemu kamu lagi!” seruku kemudian bangkit, namun tiba tiba pandanganku mulai gelap aku ambruk dipelukan Defa.

Matahari mulai menyilaukan mataku, memaksaku untuk terbangun dari alam mimpi. Perlahan kubuka mataku, aku berada di rumah Bibi sekarang, aku berharap kejadian yang kualami adalah sebuah mimpi.

“Kau sudah bangun?” tanya Gina

“Gin….” ucapku seraya mencoba bangun dari tidurku, “aww…….” rintihku.

Kulihat kaki kananku sedikit memar, berarti kejadian kemarin adalah nyata.

“Jangan banyak bergerak dulu” tegur Gina.

“Apa yang terjadi?” tanyaku

“Kemarin sewaktu kita ke perkebunan, aku sedang asyik memoto pemandangan, sadar ternyata kamu gak ada aku segera mencarimu, namun aku melihatmu sedang bersama Defa, kuurungkan niatku awal, kulihat kalian sedang berbincang serius, karna takut mengganggu aku berencana pulang dengan Rajif, namun aku mendengar jeritanmu. Aku dan Rajif segera menemuimu, ternyata kamu terjatuh dan pingsan, terlihat Defa sangat panik, kemudian Defa membopongmu ke rumah Bibi.” jelas Gina, “kurasa Defa masih mencintaimu.” lanjutnya

“Kamu ngomong apa sih Gin? Jelas jelas Defa itukan pacarmu. Mana mungkin dia mencintaiku? Kau ada ada saja, haha.” tawaku hambar

“Maafkan aku Ka, dulu aku merebut Defa darimu, aku sangat mencitainya tanpa ku pedulikan kamu, ego ini mengendalikanku Ka, kalau kau tau Defa selalu ingat denganmu, aku dulu pernah memergoki dia menaruh fotomu di dalam lacinya, setelah kejadian itu, Defa sangat berubah Ka, dia jadi cuek denganku, mungkin….” kalimatnya terpotong saat Defa terlihat diambang pintu.

Gina menatap Defa, Gina menghampiri Defa lalu menarik tangannya keluar dari kamarku. Aku tak tau apa yang mereka lakukan, kulihat dijendela rintikan hujan mulai berubah menjadi ribuan air yang seakan tumpah dari langit, angin mulai berhembus dari segala arah, rasa digin mulai menyelimuti suasana yang sangat mencengkam, aku memberanikan diri untuk bertemu dan menjelaskan kepada Gina dan Defa, aku tak mau terjadi apa apa dengan mereka karnaku.

“Aww…..” rintihku pelan saat menaruh kaki kananku ke lantai yang dingin. Aku berjalan menuju ruang keluarga dimana Defa dan Gina berada.

Aku mengintip mereka di balik gorden yang memisahkan ruang keluarga dengan ruang tengah.

“Def, maaf aku rasa hubungan kita harus sampai disini, aku tak mau terlalu lama melukai hati Sika, dia sahabatku satu satunya, aku tak mau kehilangannya.” lirih Gina dengan suara yang berat.

“Tapi Gin, kamu yakin ingin mengakhiri semuanya?” ucap Defa meyakinkan kata kata dari Gina

“Sangat yakin dan aku ingin kamu kembali dengan Sika lagi, merajut kasih sayang kembali seperti waktu dulu. Aku mengerti kalian masih mencintai, aku tak mau jadi pihak ketiga yang menghancurkan hubungan sahabatku.”

“Kau tak bersungguh sungguhkan? Sika bertemu denganku saja tak mau! Aku mencintaimu Gin.” terucap sebuah kata yang membuat dada ini sesak, aku tak mampu mendengar lebih kelanjutannya lagi, aku segera berjalan dengan susah payah, aku berjalan menuju keluar rumah Bibi, ku biarkan air hujan membasahi tubuhku ini, mungkin dengan cara ini aku dapat melupakan semuanya yang terjadi. Aku menangis tersedu sedu, aku menumpahkan semuanya disini, di tanah yang telah lembek terkena guyuran air, rasa sakit yang ada di kakiku seakan hilang.

“Tuhan apa bisa aku mengulang waktu? Aku harap aku tak pernah bertemu dengan Defa, aku tak mau pertemanan yang selama ini kurangkai dengan Gina hancur karna seorang lelaki yang sama sama kami cintai. Aku tak bisa membayangkan jika sahabatku Gina pergi, hidupku tak akan seindah ini. Tuhan kumohon hapuskan dia dari hidupku.” Isakku

“Ka….” panggil Gina berlari kearahku, kupeluk erat tubuh mungil Gina.

“Aku janji gak akan ninggalin kamu Ka.” lirih Gina ditelingaku.

Aku mengangguk menyetujuinya, kulihat orang yang selama ini kurindukan namun juga ku benci berada di samping Gina. Gina melepas pelukanku, diraihnya tangan kananku kemudian dituntunya ke tangan Defa, seketika aku tak mengerti apa maksut dari semua ini, namun Defa tak menyangkal, dia menggenggam tanganku.

“Aku mau kalian bersama lagi” ucap Gina dengan senyuman yang terlukis di wajahnya.

“Aku tak bisa” ucapku seraya melepaskan genggaman Defa dari tanganku.

“Aku tak mau persahabatan kita hancur karna kita menyukai lelaki yang sama, aku beranggapan persahabatan lebih sempurna dari pada perselisihan, memang aku masih menyukai Defa namun aku telah mengikhlaskannya denganmu Gin, aku telah belajar mengikhlaskan seseorang yang sangat aku sayangi untuk bersanding denganmu. Jika kupikir kalian lebih cocok kok.” senyumku dengan penuh kedustaan.

“Aku dan Gina telah sepakat untuk bersahabat saja, aku merasa bersalah merusak hubungan persahabatan kalian, dan kini aku harap kalian mau menerimaku sebagai sahabat baru kalian, itupun kalo kalian mau.” tutur Defa

“Kami mau.” ucapku hampir serempak dengan Gina. Kemudian kami tertawa lepas

“Bolehkah aku memelukmu tanda persahabatan?” pinta Defa kepadaku.

Aku menoleh kearah Gina, terlihat Gina mengangguk tanda mengiyakan sinyal ku tadi.

Aku segera memeluk Defa dengan erat, Defa membalas pelukanku, mungkin ini terakhir kalinya aku dapat memeluknya. Hujan masih mengguyur kami, pelukan Defa seakan menghangatkanku dari suasana dingin yang sangat terasa saat ini.

Tuhan, terimakasih telah mengajarkanku arti persahabatan, aku mau semuanya abadi sampai akhir hayatku.

     “Cry Your heart out, let it go. Remember! After every tear comes a beautiful rainbow”

 

                                                            SELESAI

Inspirasi: Restu Tulus Dewanti🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s