Anastasia’s Story Part 2

Hari berganti hari, dan minggu pun trus berganti.Hari pementasan pun tiba. Kami didandani dengan kostum bak pangeran dan putri. Panggung megah yang didekorasi seperti berada di Italia sana, dekorasi yang merurutku sangat megah untuk ku dan Justin membuat kami gugup. Justin pun menenangkanku

“Lihatlah kearah kanan, akan ada Romeo yang kau cintai. Saat ini kamu adalah Julietku dan aku adalah Romeomu. Ulurkan tanganmu, dan ingatlah disana ada Romeo yang kamu cintai. Romeo yang berjanji menjagamu selamanya, sampai maut tak berani memisahkan kita. Kamu tak sendirian, begitupun aku, aku punya kamu disini” seraya memegang tanganku dan meletakkan didadanya.

Rasa gelisah yang tadi sempat hilang kini datang lagi, kegelisahan itu datang lagi saat kami berjalan di lorong gelap menuju panggung tersebut. Kata kata Justin masih terngiang dibenakku,

“Ulurkan tanganmu maka ada Romeo yang kamu cintai”

Semua arahan Bu Rini terselesaikan hari ini. Bu Rini terlihat memasang senyum terindahnya untuk tim asuhannya.

Adegan demi adegan terlihat sangat alami, karna adanya dukungan dari orang orang disekelilingku, tanpa godaan godaan nakal anggota teater lain. Setiap pemain terlihat serius.
Tibalah saat yang paling ditunggu tunggu, yaitu pada saat ending, sempat terbesit di pikiranku bahwa Justin akan memintaku untuk melunasi hutangnya di tukang bakso, tentu saja pikiran itu mengada ada. Kini Justin sedang berakting seolah mencariku. Sampai akhirnya kami bertemu di pohon yang rindang, di suatu malam yang bertabur bintang nan terang.

“Kamu tau, bahwa aku ingin terus menjagamu disisa hidupku. Aku selalu menginginkanmu di saatku terpuruk, saat senang, saat sepi, saat tawa, saat masa tergelap dan terangku, namun satu hal yg harus kamu ketahui. Bila ujung waktuku tiba, bila aku harus meninggalkanmu sendiri, pergi dari dunia ini, ada pengecualian, aku tak ingin kamu menemani aku. Masa depanmu masih panjang, aku tak memintamu tetap disisiku selamanya.”

Semua terdiam, suasana gedung menjadi sepi sunyi,laksana malam di kisahku.

“Bukan Justin bukan itu dialognya! Kamu salah!!!” dalam hatiku aku mengatakan itu.

Aku sempat panik dan menginjak kakinya, namun Justin tetap menatap mataku.

“Aku bukan lelaki yang patut kamu cintai. Aku bukan Romeo yang bodoh yang harus menyerah pada takdir, untuk mendapatkan apa yang diingkannya. Aku hanyalah lelaki yang berserah kepadaNya dan tidak mau mengikuti apa kenginginan dagingku. Kamu pun juga bukan Juliet yang harus meneggak racun untuk menemui Romeonya yang belum tentu jodohnya. Jika waktuku tiba nanti, tetaplah berjuang melanjutkan hidupmu. Julietku sayang, sebarkanlah cinta kita, bahwa cinta adalah hal yang sederhana. Yang tidak perlu ditukar dengan nyawa. Kamu hanya cukup mengenangnya disini” ucap Justin seraya meletakkan tanganku ke dadanya. Aku seketika diam.
Dialognya memang salah, namun aku dapat melihat bahwa dia dapat membuat ratusan mata berlinang air mata. Tidak tua, tidak muda, laki laki maupun perempuan, merasa terharu dengan ucapannya. Termasuk Bu Rini yang tadi sempat melototi Justin.
Tapi, tiba tiba Justin menubrukku dan memelukku dengan erat. Air mataku pun tak dapat ditahan lagi dan aku menangis, tak peduli jika riasku terhapus. Sejenak aku masih mengira Justin masih berakting namun tubuh Justin memberat dan darah segar membasahi jas putihnya. Aku tak kuasa menompang berat tubuhnya dan Justin perlahan jatuh dari pelukanku

“Justin, kamu kenapa Justin” teriakku histeris.

Beberapa orang menghampiri kami. Tubuh Justin digotong beberapa orang menuju rumah sakit.
Drama musical ditutup dengan ending yang tidak jelas

************************

“Aaaaagggrrr…….Sakiit” erang Justin

Aku terbangun, bau obat obatan menyambut kedatanganku dari wisata dunia mimpi. Aku melirik jam tangan, pukul 23.40, sebentar lagi tanggal 1 Maret hari ulang tahun Justin yang ke 17.

“Kamu gak papa Justin?” tanyaku khawatir

“Aku selalu baik kok” kata Justin.

Aku tak kuasa menahan tangis, “Nggak papa gimana? Kamu pingsan Justin!! Pingsan! Aku gak mau kehilangan kamu! Aku gak siap!” teriakku

“Jangan nangis sayang. Aku sayang kamu dan aku tau kamu sayang aku juga. Aku mau ngerayain ulang tahunku” ucapnya lembut seraya menghapus air mataku menggunakan jemarinya yang halus.”Nggak nyangka ya, mama udah ngelahirin aku 17 yang lalu, dan sekarang aku seperti ini, punya pacar yang baik dan pengertian sepertimu. Aku udah bertahan 6 tahun dari penyakit sialan ini. Jujur aku capek. Kalau gak ada kamu mungkin aku gak tau bakal jadi apa” jelasnya.
Aku tak dapat membendung air mataku lagi, aku menangis.

“Kamu ngomong apa sayang?” suaraku bergetar semakin hebat, tangisku tak dapat reda.

“Sayang jangan nangis, nyanyi dong buat aku. Buat ulang tahunku” ajak Justin yang sudah kebingungan. “Tapi, gak pakek nangis” tambahnya lagi.

Aku menatap Justin, matanya selalu teduh dan indah. Kami memang telah membahas tentang ini ratusan kali jika Justin pergi, bagaimana kelanjutan kisah cintaku? Justin selalu menyisipkan pesan dan semangat disetiap pembicaraan. Saat ini aku merasakan bahwa Justin akan pergi meninggalkanku dan saat itu aku berharap Tuhan berbaik hati untuk mencabut nyawaku juga.

“I never through that I’d be easy,
Cause we both so distant now,
And the walls are closing in on us,
And we’re wondering how,
No one have a solid answer,
but we just walking in the dark,
And you can see the look on my face it just tears me apart….” Aku bernyanyi pelan dan aku menangis lagi. Saat laguku usai aku melihat jam tanganku pukul 00.03

“Happy birthday Justin……Happy birthday Justin……Happy birthday Justin……Happy birthday Justin……” ucapku lirih, namun tetap dengan tangis berderai.

Aku dapat merasakan mata Justin menutup perlahan, tangannya mulai mendingin dan wajahnya mulai memucat. Monitor pendeteksi detak jantung di sebelah tempat tidur berubah menjadi garis lurus.

“Makasih Justin, udah mau bertahan selama ini buat aku” kataku.

Aku mengecup pipi Justin dan duduk disampingnya. Aku merasa pandanganku mulai gelap, semua samar, dan tak terasa rohku beringsut meninggalkan ragaku menjadi ringan dan damai.

************************

“Malem semua!” sapa Gilang ramah. Ya, hari ini adalah hari perpisahan, kelulusan kelas 3.

“Malem.” sahut mereka semua

“Hari ini, semua anggota OSIS sudah setuju. Tidak ada King and Queen, Pensi, ataupun sejenisnya. Karena kita telah memiliki King and Queen kita yaitu Justin Drew Bieber dan Anastasia Ardyagarini. 2 siswa terbaik dari SMA Bintang kita tercinta, kebanggaan kita semua” Gilang berhenti sebentar.

“2 hari lalu mereka pergi meninggalkan kita semua. Dalam usia muda, 17 tahun. Dimana awal bagi kita, menjadi akhir bagi mereka. Mereka meninggalkan kenangan manis dalam diri kita masing masing. Salah satunya kepergian Anastasia. Dia sehat, dia tak divonis kangker, tapi dalam satu malam,dia menuyusul Justin. Satu pelajaran betapa ajaib dan abadinya cinta mereka.”

Greyson menambahkan “Anastasia, gadis cantik incaran semua siswa putra dan Justin Ketua OSIS kita yang cerdas, mereka belum melihat hasil UN mereka yang mengaggumkan. Mereka belum merayakan kelulusan, kami sekaku panitia akan menayangkan video buatan Justin dan catatan kecil dari Anastasia, semoga menjadi inapirasi kita” kata Greyson mundur, mematikan lampudan lilin. Di belakang Ririn yang akan membacakan puisi buatan Anastasia. Video dimulai.

“My One and Only Memory. Kekuatanku berasal dari kalian, oleh : Justin”
Begitu stopwatch mulai dihitung muncul slideshow dari foto foto alumni SMA Bintang. Mulai dari saat mereka masih memakai swragam putih biru dan memakai aksesoris super aneh bin nyata.

“MOS,saat perkenalan paling membahagiakan”

Lalu masih banyak lagi foto yang ada.

“Justin Drew Bieber” Ririn mulai membacakan catatan, dengan video masih berputar.

“Dia, bukanlah sosok yang hebat dan sempurna. Dia bukan superhero maupun presiden. Dia hanyalah seorang pria yang berusaha memberikan keceriaan disekelilingku. Dibalik kesenangannya taukah kamu bahwa dia menderita? Beberapa menit lagi, mungkin beberapa jam dia akan direnggut oleh penyakit yang tak sopan itu! Kangker! Namun tak sekalipun dia bersedih hati, tak satu pun air mata pernah menetes. Namun hanya prestasi demi prestasi yang membanjiri deras ruang kepala sekolah kita. Kebaikkan dan kesupelannya tetap terkenang. Aku masih ingat apa yang dia bilang, saat dia mengatakan perasaannya padaku, ‘Anastasia, aku enggak selamanya bisa jagain kamu, izinkan aku menyayangimu di sisa hidupku yang singkat’ kata itu terus kupikirkan, ucapan yang terkesan sederhana namun bermakna besar untukku”

Gambar video terus berputar terlihat foto foto saat kelas 2, IPA-IPS, Saat bersama, sendirian, berpelukan, dll.

“IPA-IPS, bukan penghalang bagi kami.”

itulah catatan yang terukir salah satu foto. Foto kembali berganti, saat mereka berpose di depan kelas, untuk terakhir kalinya.

“Mungkin saat kalian mendengar ini, Justin tidak dapat kalian temui lahi. Tapi ingatlah, dia pernah menjadi bagian dari SMA Bintang, jangan melupakannya. Dia adalah bagian dari kisah kita, sekolah ini” ucap Ririn membacakan catatan Anastasia

“Papa, Mama, Anastasia, Teman teman. Entah jadi apa aku tanpa kalian”

Itu adalah kutipan kata kata Justin, yang ada sebuah makna,

“betapa cinta dan dukungan dari orang orang disekitarnya dapat bertahan 6 tahun dari serangan kangker. Tentu saja sangat hebat. Suatu saat, jika kalian sangat terpuruk, ingatlah teman kalian Justin, ingatlah tawa yang dia hadirkan, jadikan ia motivasi dalam hidup kalian.” Ririn telah selesai membacakan catatan Anastasia

Video masih berputar, terlihat masa akhir di SMA,foto saat try out, pensi, study tour.

“Mungkin ini akhir kisahku, namunawal bagi kalian”

Itulah kutipan Justin yang ditulis diantara foto itu. Dan terakhir Justin memotret gedung sekolahannya, tempat kenangannya terakhir.Video terhenti, lampu dinyalakan, dan menunduk mendoakan Anastasia juga Justin.
Anastasia dan Justin telah pergi dan mereka yang diberi umur panjang harus mengisi dengan hal positiv.

2 orang yang kisahnya begitu sempurna, tanpa racun pun kalian bisa mendapatkannya.

The End

Terimakasih sudah menbaca (:
Jika terdapat kesamaan nama mohon dimaafkan

3 thoughts on “Anastasia’s Story Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s