Anastasia’s Story part 1

Perlahanku berjalan menaiki jalan setapak menuju sebuah danau, bau tanah dan rintikan hujan menemaniku menjelajahi petualangan tersebut. Aku lalu tersenyum saat melihat sosok pria yang menungguku, ku mempercepat langkahku, mencoba menggapainya lebih cepat, tak peduli hujan yang semakin deras dan beceknya tanah khas pedesaan mengotori rok panjang putihku.

“DOOOOORR!!! Hayo, nglamunin aku yaa??” ujarku berniat mengaggetkannya.

“Anastasiaaa kok telat banget sih? Tuh kan, udah tambah gelap. Lilinnya udah mati semua kena air hujan tuh!” jawabnya sambil menatap terus kearah lilin-lilin kecil yang telah padam terkena air hujan. Lilin bewarna merah, warna kesukaanku yang telah ditatanya sedemikian rupa membentuk hati. Ya, memang lilin lilin itu sangat indah. Aku melihatnya sekilas sebelum semuanya mati satu persatu.
Namun, menurutku lebih indah melihat senyumnya daripada lilin lilin tersebut. Jauh lebih nyata dan indah, itu kosa kataku sendiri.

“Aneh ya? Tadi di sekolah panas banget, sekarang disini hujan.” ujarku memperbaiki suasana yang sepi ini.

“Iya, aneh banget” jawabnya singkat.

“kamu lama nunggu ya? Aku minta maaf banget!” kataku memohon

“enggak kok, baru aja. Aku cuma bercanda tadi” dengan senyum jail

“maaf juga kemarin aku enggak bisa menemanimu check up ke dokter.” tanyaku dengan lembut namun dengan nada khawatir.

“nggak papa kok. Aku baik. Aku akan selalu baik kalo ketemu sama kamu.” ujarnya, sekali lagi dengan senyumannya.

“yaaa…..ngegombal.”

Padahal aku tau keadaannya. Dia kuat diluar, namun rapuh didalam. Entah apa yang membuatnya selalu tegar menghadapi cobaan tersebut. Seolah kehabisan kata kata kami hanya terdiam.

Sore ini aku dan kekasihku Justin, mengunjungi danau ini untuk yang kesekian kalinya. Itu adalah danau favorite kita. Tempat dimana kita pertama bertemu, berkenalan, bahkan mengerjakan segala sesuatu bersama.
“Danau Abadi” yaah…..begitulah Justin menamainya. Memang terdengar aneh, beberapa kali aku menanyakan mengapa dia menamakannya seperti itu dan justin hanya menjawab.

“Agar, nanti saat aku tak ada kamu dapat mengenang masa masa awal kita bertemu, sampai saat ini.”

“Kamu, pernah nyadar gak tentang sesuatu di danau ini?” tanya Justin.

“Nyadar apaan? Perasaan selama 4 tahun kita pacaran,keadaan danau ini sama aja deh.” kataku

“Dasar gak peka! Itu lo. Berang berangnya aneh aja, masa musim panas maen di danau” jelasnya.

“Apaan yang aneh? Perasaan dari dulu kayak gitu” ujarku gak ngerti

“Bukan itu maksutku. Mereka itukan sepasang. Dari dulu aku perhatiin mereka itu saling setia rasanya. Kamu mau gak kalo aku udah gak ada nanti kamu cari orang lain yang lebih sehat, yang gak sakit sakitan seperti aku?” Pertanyaan itu membuatku terenyuh.

“Aku gak pernah kepikiran hal itu” batinku.

“Dulu Justin itu optimis, Justin itu tegar, kemana Justin yang dulu?” tanyaku sedikit membentak

“Sebentar aku belum selesai bicara. Aku hanya berjaga jaga saja. Nanti kalau aku sudah tiada, supaya kamu enggak ragu cari penggantiku” jelasnya lirih.

“Justin kamu harus optimis. Coba lihat matahari itu. Dia memang selalu terbit dan tenggelam tiap hari. Ibaratkan matahari itu kamu, itu tandanya kalau ada terangkan setelah gelap! Aku yakin ada harapan buatmu, sekecil apapun itu pasti ada!” ujarku

Aku menarik nafas, “Aku gak akan baik baik saja kalau kamu pergi, Justin. Aku membutuhkanmu. Kita semua Ririn, Gilang, Greyson, semua membutuhkanmu.” ujarku menahan air mataku.
Namun Justin hanya membalas dengan senyuman tak ikhlas.
Kami kembali terdiam, menatap air danau yang tampak kekuningan yang membiaskan cahaya matahari yang tenggelam.
Daun daun kuning mulai berguguran, tanda tak mampu menahan derasnya air hujan.

“Pulang yuk, kamu nanti sakit, soalnya udah sore. Aku juga harus minum obat biar bisa menjagamu selamanya.” ujarnya

Kami berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah kami.
Rumah kami bertetangga,namun kali ini sambil bergandengan tangan, aku menggenggam jemari tangannya erat erat seakan tak ingin kehilangannya.

*******************

Keesokan paginya…

Semilir angin mengiringi langkah kami berdua menuju gedung SMA kami. Ya, SMA Bintang, sekolah kami yang telah menjadi rumah kedua bagiku.

“Pagi Abang”
“Pagi Just”
“Pagi Bro”
“Morning kak”
Selalu begitu, setiap pagi tidak ada yang tidak menyapa Justin jika berpapasan. Justin orang yang ramah, begitu komentar orang yang pernah kenal dengan Justin.

“Pagi ntin!” sapa cowok yang rupanya Greyson.
Greyson adalah sahabatku dan Justin, tempat kami curhat jika ada masalah, bisa dibilang Greyson itu dokter cinta kami.

“Jangan panggil aku ntin dong, kayak klakson aja” protes Justin
Aku hanya tersenyum geli melihat ekspresi Justin.

“Iya deh ntin eh Just” canda Greyson. “Justin, main basket yuk. Aku pengen nyoba ngalahin kamu, masa seminggu ini aku terus yang kalah”

“Nggak papa dong” tawa Justin

“Jadi main gak?” ujarku menengahi perdebatan

“Kamu ngebolehin?” tanya Justin

Aku hanya mengangguk kecil tanda mengizinkan.

“Oke Grey ayo” ujar Justin semangat.

Permainan dimulai, Justin segera merebut bola basket dari tangan Greyson, mendribblenya dan mengshootnya. Rupanya masuk 2 poin untuk Justin! Dia pun melompat lompat kesenangan.

“Berapa lama lagi dia sanggup bertahan dalam situasi seperti ini Ya Tuhan?” batinku.

Aku tau Justin berada di masa masa sulitnya. Aku sudah berjanji tidak akan menangis mengingat tentang Justin, namun air mataku sudah menetes hingga pipiku. Besok, sekarang, maupun tahun depan, dia pasti akan pergi. Aku tak sanggup menerima kenyataan tersebut.
Justin sudah mau bertahan untukku, untuk menjagaku, untuk membalasnya aku hanya dapat mengucapkan terima kasih.

Aku tak ingin Justin tau bahwa akusedang menangis, maka segera ku berlari menuju kelas.

“U smile, I smile, wooouhh. U smile I smile….

Aku mendengar suara Justin mengalun dari sebuah ruangan yang menciptakan suatu harmoni kesimetrisan antara suara Justin dan piano berdenting.
Aku membuka pintu ruangan itu dan menemukan sosok Justin yang sedang duduk memainkan pianonya. Aku mengamatinya tanpa berkedip, setelah aku sadar dari lamunanku, aku merasakan Justin memberikan sebuah isyarat agar aku duduk disebelahnya.

Setalah duduk di sampingnya, tiba tiba jemariku ikut bermain dalam tuts tuts hitam putih itu, memainkan piano itu berdua. Tak lupa berduet lagu tersebut.

“oohh….yeeeaahh….mmmm…
I’d wait on you forever and a day hand and foot,
Your world is my world, yeaah
Ain’t no way you’re ever goi’ get,
Any less than you should,
Cause baby,You smile, I smile, wooaaah
You smile, I smilee….”

“proookk…prookkk…proookk…ciiee tempat pacarannya pindah yang dulu danau sekarang di ruang kesenian” ledek salah seorang temanku.

“Romeo dan Juliet kita tambah kompak ni” semua teman teman kami menggodaku,tentu saja pipiku langsung merona merah.

Mereka semua adalah tim teater SMA Bintang, kami memang latian langsung di gedung kesenian ini, untuk pementasan drama musical kami minggu depan, Romeo dan Juliet.

Setelah Bu Rini, guru pembimbing kami datang, kami pun segera mulai latihan. Aku pun merasa lega karna terbebas dari ocehan dan godaan tidak bermutu yang berasal dari segerombolan anak theater yang mulutnya memang sudah terkenal jahilnya satu sekolah.

Kebetulan aku dan Justin dipasangkan menjadi Romeo dan Juliet dalam drama tersebut, untuk sementara latihan berjalan lancar.

Sampai ending, semua mata masih berkonsentrasi mengamati akting ku dan Justin menanti bagian yang paling penting. Semua fokus dan tampak serius, namun ada juga pihak yang tidak serius.

“Julieet sayang…..” panggil Justin lembut

“iya” balasku

“Tolong, ini menyangkut hidupku selamanya” ujarnya serius

“Ucapkan saja apa yang kamu butuhkan maka aku akan menolongmu Romeoku” jawabku

“Tolong, bayarin bakso di depan sekolah dong” ujarnya memelas

“HAHAHAHAHAHAHA!!!!” semua tertawa keras.

“Romeonya kere” komentar salah satu siswi.

“Justin Drew Bieber!!” raung Bu Rini melihat akting Justin yang awur awuran.
Justin hanya bisa nyengir tanpa dosa.

“Kamu ini bercanda saja, sudah sudah latihannya kitalanjutkan besok. Keseluruhan sudah bagus, tingkatkan lagi jangan main main” ujar Bu Rini

Lihatlah, lihatlah tingkah Justin.
Padahal baru beberapa saat yang lalu dia menghapus darah segar yang mengalir dari hidungnya dan dia masih bisa membuat keceriaan di ruang ini. Membawa kebahagiaan.

“Aaaaggghhh…….Tuhan kalau boleh, dapatkah aku menggantikan posisinya???” batinku sedih.

Tunggu cerita selanjutnya ya🙂 Makasih mau baca

2 thoughts on “Anastasia’s Story part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s