Kopiku dan Sweatermu

Masih kuingat malam itu hujan sangat deras dan aku lupa membawa mantol. Ruangan lesku sudah mematikan lampu dalam dan menyisakan lampu depan yang dibiarkan menyala. Satu persatu temanku berpamitan pulang. Aku mendongak keatas, awan mendung seakan menyapu bintang bahkan bulan pun juga disapunya seakan malam ini menandakan dia yang menjadi penguasa untuk merebut cuaca.

Suasana semakin sepi hingga akhirnya kuputuskan aku harus segera pulang karna malam semakin larut dan terlebih aku penakut walaupun hujan masih tak mau mengalah biarlah yang terpenting aku tak terjebak sendirian di situasi seperti ini. Aku mengangguk kepada diriku sendiri dan meyakinkan tak apa-apa jika harus kehujanan toh besok Hari Minggu. Saat aku akan keluar dari parkiran dalam dan sedang memakai helmku, aku masih teringat tangan itu menyodorkan mantol berwarna merah. Aku sedikit mendongak untuk melihat siapa pemilik tangan tersebut dan ternyata dia Angga.

Aku mengerutkan dahiku memberi kode mengapa dia menawariku mantolnya, yang nantinya jelas-jelas dia yang akan basah jika aku mengiyakan tawarannya.

“Nanti kamu sakit,”
Begitulah katanya setelah melihat mimik mukaku.

“Kalau kamu sakit yang nyakkitin aku siapa,” lanjutnya dengan sedikit tertawa.

Yang aku lakukan saat itu hanya memandangnya lalu menggelengkan kepalaku dan melajukan motorku menembus hujan. Kupikir itu tindakan yang bijaksana karna aku tidak akan menerima tawarannya seperti halnya menerima perasaannya.

Tak disangka dia menembus hujan tanpa mantolnya membuntutiku. Aku sempat berpikir apa yang sedang dia lakukan. Saat dipersimpangan jalan aku membelokan motorku ke mini market yang tidak begitu ramai sekedar membeli kopi hangat karna kurasakan tubuhku sedikit menggigil. Setelah membayar kopi aku duduk di luar mini market dengan baju yang setengah basah. Aku meniup kopiku yang masih panas sebelum meminumnya lalu sedetik kemudian aku teringat Angga, aku mengedarkan pandanganku namun tak kutemukan keberadaannya. Bukan khawatir hanya memastikan dia sudah pergi atau belum dan sepertinya dia memang benar-benar sudah pergi saat aku tak menemukan motornya. Aku menghela napas.

“Nyariin?” suara Angga tiba-tiba terdengar dari belakang tubuhku.
Aku menoleh dan benar saja itu Angga.

“Aku ganti motor kamu gatau? Haha” jelasnya tanpa ada yang menanyakan.

Lucu ya tanpa aku bertanya dia selalu akurat menjelaskan apapun yang sedang kupikirkan. Hanya kebetulan. Jangan berlebihan itu bukan ada maksud apa-apa.

Dia tersenyum dan tiba-tiba aku merasakan perasaanku yang tiba-tiba menghangat.

Angga duduk di sebelahku dan pada hari itu kami banyak berbincang walaupun terkadang tidak jelas. Hujan masih deras serta malam semakin larut, dinginnya malam membuatku mendesis seraya mengusap bahuku.

“Nih pake,” Angga memberikan sweater abu-abu merah miliknya yang masih kering karna dimasukkan ke dalam tasnya.

“Ih…kayak FTV aja. Enggak, kamu pake aja” jawabku mendorong tangannya.

“Aku kok tiba-tiba gerah ya. Kamu kan yang kedinginan dah pake aja nih” ucapnya menaruh sweaternya dibahuku. Bukan Angga namanya jika dia tak memaksa.

Aku menyunggingkan senyumku benar-benar alasan yang tidak masuk akal. 
“Thanks,” jawabku.
“Tuhkan sebenarnya mau,”
Aku memutar bola mataku kemudian tersenyum.

Dan saat itu merupakan 1 diantara 1000 memori yang masih aku simpan dengan rapi didalam pikiranku seakan menjadi film pendek saat aku memejamkan mata dan merasakan merindu.

Dan disaat merindumu yang bisa kulakukan hanyalah menulis memori itu agar kaupun juga ingat kita pernah memiliki sebuah cerita yang sayang jika dilupakan.

Maka dari itu aku membiarkanmu hidup didalam tulisanku.

Silahkan pergi.
Karna didalam pergimu
aku mengharapkan pulangmu.

Sebatang Coklat Leleh

Pagi itu di Kota Jogja cukup dingin karna semalaman hujan turun, ku rapatkan jaketku lalu segera berangkat ke kampus. Jalan masih lenggang mengingat masih pukul 6 pagi, terkadang traffic light saja masih tertidur. Perjalanan menuju kampus terasa sangat nyaman dan tenang. Sebenarnya jarak antar kampus dengan rumahku tidak begitu jauh, alasanku berangkat sepagi ini karna aku menyukai suasana dipagi hari yang seakan memberikan perasaan meditasi pada diriku sendiri.

“Tinn….”

Suara klakson dibelakangku membuyarkan lamunanku, kulihat di spionku pantulan seseorang yang tersenyum dengan sedikit menaikkan alisnya. Aku tersenyum membalasnya. Dia adalah seseorang yang menjadi alasan selanjutnya yang membuatku bersemangat berangkat pagi.

“Annyeong Bintang,” sapanya saat kami berhenti di traffic light.

Aku tersenyum. “Apaan sih Bi,”

Dia tertawa memamerkan deretan giginya yang rapi.

“Ada PR gak sih?” tanyanya kemudian.

“Ada,” jawabku. Ah iya kami satu kelas di Manajemen A.

“Waduh nanti aku liat tempatmu ya Bi,”

Lucu ya kita memiliki panggilan yang sama. Walaupun nyatanya aku selalu dipanggil Bin dikelas namun Abi selalu memanggilku Bi katanya biar kami jodoh dan diam-diam aku selalu mengamininya.

Aku mengangguk.

Lampu berubah menjadi hijau, ku lajukan motorku didepan Abi. Biasanya jika kami bebarengan dia akan tetap dibelakangku katanya untuk melindungiku. Ah…Abi dia sangat bisa membuatku tak berhenti tersenyum. Suara motor besarnya seakan menjadi tanda dia berada dibelakangku namun jika aku tak mendengarnya aku akan memperlambat motorku karna pasti dia terjebak traffic light dan setelah aku mendengarnya kembali aku melajukan motorku kekecepatan normal.

Kelas masih sepi. Pantas saja ini masih pukul setengah 7 namun suasana seperti ini justeru membuatku bisa berduaan dengan Abi. Senangnya. Aku mengedarkan pandanganku ke ruangan kelas tapi tak terlihat keberadaan Abi, tadi setelah aku memarkirkan motorku dia menghilang begitu saja, kupikir sudah ke kelas. Mungkin ada suatu urusan, batinku.

“Annyeonng Bi,” ucap seseorang yang sudah kukenali.

Aku mengangkat wajahku lalu menghentikan aktifitasku membaca novel. “Darimana? Aku pikir tadi ke kelas duluan,” tanyaku.

“Hehe….tadi ada urusan,” jawabnya disertai tawan ringan. “Bi, mau pinjem catetan,” lanjutnya.

“Nih,” ucapku seraya memberikan catatanku yang sudah kupersiapkan diatas meja.

Abi mengambilnya lalu berjalan ke bangku tempatnya dan mulai asik menyalin jawabanku. Sesekali dia bergumam ataupun menopang kepalanya memecahkan soal dan relevansi jawabanku.

Aku memandang keluar jendela terlihatlah jalan raya yang sudah mulai ramai. Satu persatu teman temanku datang. Aku kembali ke tempat dudukku di deretan kedua dari depan. Kulihat Abi yang masih menyalin di deretan bangku belakang.

Suasana kelas sudah ramai, dosen memasuki kelas lalu kutengok Abi yang langsung menyudahi kesibukkannya segera mengembalikan catatanku.

Kelas berjalan lancar walau tadi Dito menyebabkan kendala karna jail memasukkan laba-laba karet kedalam tas Rika yang tentunya Rika langsung menjerit menyebabkan teman-teman di sampingnya segera ambil tindakan menjauh darinya. Rika dikenal sebagai orang yang selalu heboh dikelas. Selanjutnya Dito dikeluarkan dari kelas sehingga pelajaran kembali terkendali.

“Saya rasa sudah cukup. Ada pertanyaan?”

“Tidak Bu,” semuanya membeo.

“Baiklah. Terimakasih perhatiannya.”

Dosen keluar diikuti semua mahasiswa seketika kelas langsung kosong lalu aku segera membereskan barang-barangku dan bergegas pulang, sampai Abi memanggilku lalu menyodorkan bungkusan ungu bertuliskan cadburry.

Aku menatapnya bingung, “Apa?” tanyaku.

“Buat kamu tapi maaf sudah leleh,” Abi mengusap tengkuk lehernya. “Anggap saja ucapan terimakasih tadi minjemin catatan.”

Aku menerima coklat itu dan benar saja coklatnya sudah tak berbentuk layaknya coklat seperti biasanya. “Makasih,” jawabku.

Abi mengangguk lalu berpamitan keluar, tak beberapa saat kemudian aku menyusulnya.

“Mau pulang Bin?” tanya Keisha teman sekelasku yang berada di ambang pintu.

“Iya,” jawabku.

“Hati-hati ya,” pesannya.

Aku mengangguk, belum sempat aku berbelok Manda menyenggol bahuku.

“Eh maaf maaf,” ucap Manda anak Akuntansi C teman Keisha.

Aku mengangguk.

“Hei Sha,” sapanya. “Sha tau gak tadi pagi Abi nembak Lia,”

Langkahku terhenti, mulutku sedikit terbuka, aku mencerna kalimat itu dengan seksama. Apakah pendengaranku terganggu. Aku menggelengkan kepalaku mencoba meraih kesadaran lalu kudengar lagi pernyataan Keisha.

“Iya, tapi ditolak,” kata Manda.

“Sumpah?” tanya Keisha tak percaya.

Manda terdengar bergumam tanda mengiyakan pertanyaan Keisha. “Padahal coklatnya enak lo cadburry kan enak,”

Cadburry?

Aku menghembuskan napas berat ternyata coklat pemberian Abi merupakan coklat malang yang sudah dicampakkan pemilik aslinya. Aku melangkahkan kakiku kembali dengan berjuta makian dan sesal di dalam otakku.

Sebatang coklat leleh yang tak  berbentuk. Kupikir itu hadiah istimewa tapi ternyata harapanku terlalu tinggi. Pantas saja, sepertinya dia paham perasaanku yang mungkin hanya utuh dalam waktu sementara saja dan akan berubah pada waktunya. Perasaanku mulai meleleh tak berbentuk seperti coklat itu yang lama kelamaan tak berguna lalu dibuang.

(Loading…) Stuck In The Moment

Kupikir semua sudah selesai saat kutarik diriku sendiri dari percakapan tengah malam itu. Yang singgah dipikiranku hanya kata-kata dari sahabatku yang memeberiku saran untuk menyudahi segala bentuk perhatian maupun usahaku. Akan tetapi kenyataannya itu belum berakhir, bagiku apa salahnya mencoba walaupun tak kan ada yang berubah tapi memang itu yang kuharapkan, meski aku tau jawabannya tetap sama tapi tak masalah semua akan kutanggung sendiri. Jemariku dengan tidak sopan masih saja mengetikkan beberapa kata yang membentuk kalimat seperti kalimat rumpang yang mewajibkan untuk dibalas. Semestinya bukan begini. Semestinya aku tau diri. Semestinya aku tak bernyali.

Tengah malam terlewati begitu cepat, dengan ditemani drama yang sedang kutonton aku mencoba sesekali melirik ponselku yang beberapa kali menyala memperlihatkan pesan masuk namun tetap tak ada jawabannya. Sudah hampir pergantian hari dan hari ini dia tak membalas. Bukan karna dia tak ada waktu, dia ada waktu buktinya pesanku sudah dibaca namun tak terbalas.Ya, kalian bisa memanggilku psyco karna kenyataannya aku selalu membuka pesannya sekedar ingin tau. Hanya itu. Percayalah. Sebenarnya jauh daridulu aku ingin berhenti. Seperti itulah, seperti yang kalian sarankan. Tapi yang kulakukan masih saja sama; Menunggunya.

Akhirnya aku menyerah dan kutarik selimutku lalu kupejamkan mataku mulai berharap esok hari kan ku temukan namanya dengan angka 2 atau 3 di sebelah kanan.

Namun pada kenyataannya kalian pasti mengetahui jawabannya. Itu benar. Tidak ada jawaban.

Aku menghela napas dan berpikir siapa aku yang mendiktenya harus membalas pesanku setiap saat? Siapa aku yang harus membuatnya sadar bahwa balasannya sedang kutunggu? Siapa aku yang harus berharap dia akan bertanya mengenai kehidupanku? Siapa aku yang harus berharap dia akan menemaniku disaat aku kesepian? Jawabannya sederhana; Aku bukan siapa-siapa dan aku tidak berhak atas dirinya. Ini hanya keegoisannku yang masih menggenggam bayangnya.

Seringkali aku duduk sendiri dan memikirkan betapa beratnya menjadi diriku sendiri. Kadang aku mengeluh kadangpula aku menerima. Memang aneh namun itu faktanya.

Mengingat itu semua aku mulai tersadar hampir dua tahun aku menyimpan rasa kepadanya. Dua tahun yang kurasa akan sia-sia.

Ponselku akhirnya mengabulkan doaku. Terlihat sebuah nama yang sedari tadi kusebut. Ya dia meminta maaf karna pesanku tak segera dibalasnya karna tertimbun. Tertimbun namun sudah dibaca itu aneh. Aku membalas dengan santai dan berprilaku semua baik-baik saja. Yah apalagi yang bisa ku lakukan? Mencoba memarahinya? Bangunlah ku bukan siapa-siapanya.

Dan akhirnya pesan yang kuanggap akan berakhir masih berlanjut dan menyisakan senyuman setiap kulihat namanya muncul dilayar ponselku. Lihat? Tak sulit membuatku bahagia.

Aku akan berhenti. Itu pasti. Pilihannya hanya berhenti karna sudah ada balasan atau berhenti karena tak ada lagi alasan. Entah mengapa seseorang selalu terbodohi dengan situasi seperti ini. Berupaya melepaskannya namun diam-diam masih mengharapkannya.

-Akan ada masanya ketika penantian berujung suka

Atau penantian berujung luka
Dan perjuangan akan berujung pengertian

Atau perjuangan akan berujung penyesalan-

Sudah di wattpad

Hallo readers sekarang cerita aku di wattpad ya wkwkwk kayak ada yang selalu baca aja. Oke kalau ada yang punya wattpad boleh di follow jangan lupa vote atau comment.
Postingan pertamaku berupa short story dan InsyaAllah nanti mau buat versi novelnya doain ya biar bisa kayak erisca 😍

Oke ini linknya semoga suka ” Menahan Diri (Short Story) oleh BetiSinta di Wattpad http://my.w.tt/UiNb/T82F6rxHPu

Jengjeng versi panjangnya silahkan klik di ” Restafita oleh BetiSinta di Wattpad http://my.w.tt/UiNb/Nyfolijnsv

Rindu

Sang rindu telah memanggil, seakan tau perasaan ini yang gelisah karna tak ada kabarnya.
Meskipun telah memilih untuk tak kembali pulang namun hati memilih menengok ulang.

Bukan

Melainkan singgah sebentar, menunggu sekiranya berpapasan dan saling berucap kembali.
Kembali dalam arti mencoba merangkai ulang kata ataupun memori yang kian lama kian mencair.

Rindu ini terus ku takuti karna tak kunjung berhenti. Mencoba memberontak meminta kepastian. Namun kenyataanya kepastian tak menjawab.

Aku memang memiliki hak untuk merindukannya, namun hak tak memiliki daya untuk mewujudkannya.

Chapter Two – Her

“Krystal! Kamu kemana saja sih?” ucapnya seraya berdiri saat aku memasuki restoran ramen yang sudah menjadi tempat favorite kami.

“Kubilang macet dijalan, kamu gak bisa baca?” ujarku menaruh jaket serta tasku di samping kursiku. “Duduklah” lanjutku.

Dia menuruti perintahku dengan umpatan kesal.
Ahh iya dia Deva teman SMP ku, kami sudah berteman selama 10 tahun akan tetapi kami menjadi teman dekat selama 3 bulan terakhir ini. SMA dan kuliah kami berbeda. Kami bertemu kembali disebuah reuni akbar yang di selenggarakan oleh SMP kami saat ulangtahun.

“Kamu mau pesan apa? Ramenku sudah dingin karna menunggumu daritadi”

“Ramen Katsu Soyu” ucapku tak menghiraukan pengaduannya.

“Tidakkah kau meminta maaf?” ucapnya.

“Untuk apa?”

“Sudahlah tak apa.” dia mengulas senyumnya. “Ah apakah kau tak minum?”

“Lemon Tea” jawabku.

Dia mengangguk bergegas menuliskan pesananku lalu ke kasir.
Aku melihatnya dari kejauhan, dia tak pernah menyerah ataupun lelah pasalnya aku selalu menunjukkan sikap angkuh kepadanya, aku tak pernah kasian dengannya, tak pernah membalas apapun yang dia berikan. Kenapa? Apakah dia menyukaiku? Ah ini semakin rumit, tak mungkinlah.

“Kamu darimana?”

Lamunanku terpecah saat menyadari dia sudah duduk didepanku. “Haa, oh, penting aku darimana? Kenapa kamu selalu menanyai pertanyaan seperti itu jika kita bertemu” jawabku seraya melihat ponselku.

“Aku mengkhawatirkanmu. Harus berapa kali aku mengatakannya.” kesalnya.

“Oh” ucapku masih memandang layar ponselku yang sebenarnya tak ada apa apa.

“Apa kau tak mengerti juga bahwa aku..”

“Pesanan datang, dua lemon tea, takoyaki, dan ramen. Silahkan makan.” perkataannya terpotong dan aku bersyukur akan hal itu.

“Kamu memesan lagi untukmu? Bukankah itu boros?” kataku.

“Bukan untukku tapi untuk kita, hahaha bukankah porsimu cukup banyak?”

“Ah benar kau tau saja” ucapku lalu menikmati ramen yang terlihat sangat lezat.

“I know everything about you.” jawabnya

Aku terdiam. Aku memikirkan apakah aku terlalu jahat dengannya? Selama ini dia baik kepadaku, aku masih ingat perkataan teman temanku yang sangat mendukung ku dengannya, bahkan saat ulangtahunku kemarin dia rela menunggu berjam-jam hanya untuk menungguku diluar dan saat aku pulang aku hanya merespon biasa saja, sekedar berterimakasih lalu gilanya saat itu juga dia mengungkapkan dia menyukaiku. Namun jawabaku cukup menyakitkan, aku bilang kita berteman saja karna aku masih menyukai seseorang. Dia terlihat sangat kecewa lalu langsung berpamitan pulang walaupun hujan masih deras dan sejak saat itu aku menyalahkan diriku sendiri karena aku tak memberinya kesempatan tapi moveon dari masalalu itu sangat sulit. Bagiku lebih baik jangan menerima hati orang jika hati sendiri masih disinggahi orang lain. Dan kenyataannya aku masih belum bisa melupakan seseorang yang dulu pernah ada walaupun sekarang sudah tiada. Tapi itu tak berlaku untukku, bagiku dia masih tetap ada walaupun hanya didalam memori.
Ahh kenapa aku jadi memikirkannya kembali?

“Hei berhenti menatapku saat aku sedang makan. Itu membuatku risih.” ucapku masih menikmati makan malamku.

“Dih PD” sangkalnya.

Aku tak menghiraukannya dan memutar bola mataku.

“Uugghhh kenyangnya.” ucapku.

“Mau nambah?”

“Gila apa! Enggak!”

“Lihatlah tanganmu terlalu kecil.” ucapnya memegang pergelangan tanganku, “makanlah yang banyak atau nanti kamu akan berubah jadi tengkorak berjalan” cengirnya

“Kurang ajar!” kesalku.

“…nice to meet u where u’ve been i

“Berhentilah bernyanyi. Kau menyebabkanku tak fokus makan karna mendengarkan suara merdumu.”

“Dih makan makan aja kalik”

“Hehehehe” tawanya ringan. “Emm…Kris” lanjutnya.

“Hem?” dehemku sambil meminum minumanku.

“Aku mau ngomongin sesuatu” ucapnya.

Hatiku takkaruan akankah dia akan…..lupakan. Kemana jalannya pikiranku ini?

“Ngomong aja” aku tetap meminum minumanku dan tak mengangkat kepalaku.

Entah mengapa rasanya seperti, bagaimana aku menjelaskannya? Rasanya seperti aku sudah tau dia akan mengatakan apa namun kenapa aku kesal? Dan kenapa ada rasa senang? Oh tidak aku memikirkan hal yang konyol lagi.

“Would you be my girlfriend?”

“Uhuk” batukku. Seketika mataku melotot kearahnya.

Jackpot. Batinku

Dia benar-benar mengatakan apa yang aku pikirkan, apakah dia bisa membaca pikiranku?

“Apa? Apa yang kamu katakan?” balasku masih menatapnya tajam.

“Aku….aku menyukaimu Kris dan i want you not to be my friend but be my gilrfriend. Aku tau, sangat tau aku sembrono menyatakan perasaanku yang aku sudah tau jawabannya. Kamu masih tak bisa beranjak dari masalalu. Tapi aku yakin aku bisa membantumu, aku akan selalu di sampingmu, aku akan menunggumu entah itu satu tahun atau….”

“Cukup!” bentakku, “jangan mengatakan janji yang sulit Dev. Jangan mengatakan janji murahan seperti itu.”

“Aku tak main-main Kris, aku menyayangimu. Sungguh.”

“Kau tau jawabanya kan Dev?” ucapku. “Aku mau pulang. Makasih. Aku yang bayar.” lanjutku mengemasi barang-barangku lalu beranjak pergi.

Dia terdiam tak bergeming.

Aku menggigit bibir bawahku seraya menutup mataku.

Ayolah, batinku

Aku membuka mataku lalu melirik kearahnya tanpa menoleh.

Siasia.

Padahal aku menunggunya mencegahku, padahal aku menunggu reaksinya.

Tapi dia hanya melihat bumi dan bahkan tak menatapku.

Ya kalian benar. Aku juga menyukainya.

Tapi…..aku mempunyai kendala. Dan maaf aku tak bisa mengatakannya kepada kalian. Aku sudah siap untuk menyesal beribu ribu kali.

Aku tak bisa menerimanya walaupun aku menginginkannya. Tapi kau tau? Ini pilihan yang sulit.

Tujuh bulan kemudian

Sinar matahari dengan tak sopannya menerobos kamarku, menyilaukan mataku dan mengganggu pagiku. Aku masih bermalasan di atas tempat tidurku yang seakan menghipnotisku untuk tak meninggalkannya. Akan tetapi pada akhirnya aku harus menyerah, aku bangun lalu merenggangkan badanku.

Ku seret kedua kakiku ke kamar mandi. Ku gosok gigiku dengan malas, mataku saja masih setengah terbuka. Kalau bukan tugas itu aku tak sudi untuk bergadang hingga pagi seperti ini, lihatlah mata pandaku. Oh tidak aku seperti panda sungguhan.

“LINE!!” teriak nyaring ponselku

Aku menuju kamarku lalu ku buka pesan itu dan sesuatu terjadi.

Aku bersumpah jika aku mengetahui siapa pengirim itu sebelumnya aku tak akan membacanya.

“Lama tak jumpa Kristal, masih ingat padaku? Mustahil kau mengingatnya Kris, haha.”

Kenapa dia kembali lagi disaat aku sudah mulai terbiasa tanpanya.

“LINE”

“Mmm….Kris aku ingin bertemu denganmu, bisakah minggu depan kita bertemu?”

Aku menatap ponselku dan sederet kalimat yang daridulu sudah ku takutkan.

Akankah aku menerima kesempatan ini?

Chapter One – Him

“Krystal! Kamu kemana saja sih?” ucapku berdiri saat melihatnya memasuki restoran.

“Kubilang macet dijalan, kamu gak bisa baca?” ujarnya menggerutu. “Duduklah” pintanya.

Aku menuruti perintahnya, “Di khawatirin malah nyolot.” umpatku.
Kenalkan dia Kristal teman SMP ku, yaaaa aku menyukainya sejak SMP, kau tau aku bersusah payah untuk mendekatinya karna yaahh sifatnya seperti itu. SMA dan kuliah kami berbeda. Kami bertemu kembali disebuah reuni akbar yang di selenggarakan oleh SMP kami saat ulangtahun.

“Kamu mau pesan apa? Ramenku sudah dingin karna menunggumu daritadi” kodeku

“Ramen Katsu Soyu” ucapnya tak sekalipun menatapku hanya untuk melihat wajah kesalku.

“Tidakkah kau meminta maaf?” ucapku meyakinkan.

“Untuk apa?” sanggahnya.

Jleb

Kutelan kembali pengaduan rasa emosiku.

“Sudahlah tak apa.” ucapku tersenyum. “Ah apakah kau tak minum?”

“Lemon Tea” jawabnya yang lagi-lagi enggan menatapku melainkan masih saja asik melihat ponselnya.

Segera kutuliskan semua pesanannya lalu ku beranjak ke kasir.

Aku tak mengerti, aku sudah lelah sebenarnya. Sungguh. Bagaimana tidak? Kami berteman hampir 10 tahun, kau tau rasanya menahan perasaan yang tak pernah tersampaikan? Ya memang itu salahku karna tak pernah kusampaikan. Bukannya aku penakut tapi aku sudah tau apa yang akan dijawabnya, penolakan itu menyakitkan walaupun terkadang banyak wanita yang bilang menjadi pria itu sangat beruntung karna bisa ibaratnya memilih lalu menembak. Tapi tak taukah itu sebenarnya sangat bertolak belakang? Pasalnya tak semua orang siyap menerima kegagalan serta selalu mengalah hanya untuk mendapat nilai plus.

“Silahkan ditunggu.”

“Oke terimakasih” jawabku.

Ku kembali ke tempatku. Ku lihat dia sedang memandang suasana diluar dari jendela yang berdekatan dengan meja kami. Aku duduk didepannya dan dia masih melamun. Rasanya ingin kucubit pipinya.

“Kamu darimana?” ucapku meleburkan lamunannya.

“Haa, oh, penting aku darimana? Kenapa kamu selalu menanyai pertanyaan seperti itu jika kita bertemu” jawabnya seraya melihat ponselnya.

“Aku mengkhawatirkanmu. Harus berapa kali aku mengatakannya.” kesalku karna dia tak pernah sekalipun mendengarku.

“Oh” ucapnya acuh.

“Apa kau tak mengerti juga bahwa aku..”

“Pesanan datang, dua lemon tea, takoyaki, dan ramen. Silahkan makan.” perkataanku terpotong dan aku mengutuk waiters itu karna datang disaat yang tidak tepat.

“Kamu memesan lagi untukmu? Bukankah itu boros?” katanya.

“Bukan untukku tapi untuk kita, hahaha bukankah porsimu cukup banyak?” jawabku

“Ah benar kau tau saja” ucapnya menyudahi pembicaraan.

“I know everything about you.” jawabku meyakinkannya

Dia terdiam cukup lama.

“Hei berhenti menatapku saat aku sedang makan. Itu membuatku risih.” ucapnya menghentikan kegiatanku.

“Dih PD” sangkalku.

Dia memutar bola matanya kemudian makan kembali. Dan itu terlihat sangat lucu bagiku.

“Uugghhh kenyangnya.” ucapnya.

“Mau nambah?”

“Gila apa! Enggak!” gerutunya.

“Lihatlah tanganmu terlalu kecil.” ucapku memegang pergelangan tangannya, “makanlah yang banyak atau nanti kamu akan berubah jadi tengkorak berjalan” ejekku.

“Kurang ajar!” kesalnya.

Kami kembali terdiam.

“…nice to meet u where u’ve been i…”

“Berhentilah bernyanyi. Kau menyebabkanku tak fokus makan karna mendengarkan suara merdumu.” godaku tapi memang benar dia memiliki suara yang bagus.

“Dih makan makan aja kalik” sinisnya.

“Hehehehe” tawaku, “Emm…Kris” lanjutku.

“Hem?” dehemnya tetap menikmati minumannya.

“Aku mau ngomongin sesuatu” ucapku.

Ya, aku akan mengatakan yang sejujurnya karna setelah kupikir pikir aku bersamanya sudah cukup lama dan aku juga ingin tau perasaannya kepadaku.

“Ngomong aja” dia tetap meminum minumannya dan tak mengangkat kepala.

Entah mengapa rasanya seperti, bagaimana aku menjelaskannya? Rasanya seperti mau meledak dan kenapa kata kata itu sangat berat keluar dari mulutku. Okeoke tenang dan katakan.

“Huuuh” hembusku pelan.

“Would you be my girlfriend?” akhirnya kata itu terucap.

“Uhuk” batuknya.

Jackpot. Batinku

Dia benar-benar terkejut dan memlototkan matanya kearahku.

“Apa? Apa yang kamu katakan?” ucapnya masih menatapku tajam.

“Aku….aku menyukaimu Kris dan i want you not to be my friend but be my gilrfriend. Aku tau, sangat tau aku sembrono menyatakan perasaanku yang aku sudah tau jawabannya. Kamu masih tak bisa beranjak dari masalalu. Tapi aku yakin aku bisa membantumu, aku akan selalu di sampingmu, aku akan menunggumu entah itu satu tahun atau….”

“Cukup!” bentaknya tanpa memperdulikan perkataanku yg terpotong, “jangan mengatakan janji yang sulit Dev. Jangan mengatakan janji murahan seperti itu.” lanjutnya.

“Aku tak main-main Kris, aku menyayangimu. Sungguh.”

“Kau tau jawabanya kan Dev?” ucapnya. “Aku mau pulang. Makasih. Aku yang bayar.” lanjutnya mengemasi barang-barang lalu beranjak pergi.

Aku terdiam tak bergeming. Ku lihat sosoknya yang semakin lama semakin menjauh, aku tak bisa memaksakan perasaannya. Aku tak akan mengejarnya karna kutau itu tak akan merubah apapun. Ku lihat kebawah. Ku lihat kotak musik yang sudah kehilangan pemiliknya.

Siasia.

Padahal aku berharap dia melihat ke arahku walau itu tidak ada artinya, padahal aku menunggu reaksinya.

Tapi dia hanya melihat langit dan bahkan tak menatapku.

Aku harus segera memupus perasaan ini.

Tujuh bulan kemudian

Sinar matahari dengan tak sopannya menerobos kamarku, menyilaukan mataku dan mengganggu pagiku. Aku sudah terbangun daritadi. Namun masih berdiam diri duduk dipinggiran tempat tidurku. Aku memimpikan Kris tadi malam dan aku langsung tersadar kalau aku masih menyayanginya.

Sedang apa dia pagi ini.
Sebelumnya dulu selalu kukatakan kalimat selamat pagi dan dia hanya membalas, aku sudah tau ini pagi.
Ku buka ponselku kutuliskan kalimat

Lama tak jumpa Kristal, masih ingat padaku? Mustahil kau mengingatnya Kris, haha.

Aku mengetuk ketukan jariku di pahaku sampai akhirnya ku bulatkan tekadku tanpa berpikir lagi ku kirim pesan tersebut. Aku beranjak lalu duduk di kursi balcon.
Terlihat pesanku sudah diread akan tetapi tak kunjung ada balasan, akhirnya langsung ku sampaikan benang merahnya.

Mmm….Kris aku ingin bertemu denganmu, bisakah minggu depan kita bertemu?

Begitulah pesan yang ku kirim kepadanya lagi.

Aku menatap ponselku dan sederet kalimat yang daridulu ingin kusampaikan.

Akankah aku menerima kesempatan lagi?